Minggu, 02 Maret 2008

Selamat Jalan Kang Gito



Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan kepada-Nya jua segala sesuatu kembali. Telah berpulang ke Rahmatullaah Bangun Sugito Tukiman atau yang beken dikenal sebagai Gito Rollies pada Hari Kamis Tanggal 29 Februari jam 18.45 BBWI di RS. Pondok Indah, Jakarta Selatan, dalam usia 60 tahun, dengan meninggalkan seorang istri dan empat orang anak.
Pagi hari tadi, saat hendak berangkat kerja, tidak sengaja pandanganku tertumbuk pada sebuah buku yang tergeletak di kamar. Buku ini , berjudul Catatan Hati di Setiap Sujudku, ditulis oleh Asma Nadia (pendiri Forum Lingkar Pena) dkk, yang diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa, saya beli sekitar dua minggu yang lalu. Hampir seluruhnya telah kubaca. Iseng-iseng saya raih. Sekali kubuka, terpampang halaman 161. Terbaca sebuah judul Pelajaran Lewat Telepon. Kubaca beberapa kalimat awal, dan Masya Allah, ini kisah mendiang seorang Gito Rollies yang baru beberapa hari kemarin berpulang. Kenapa kemarin-kemarin sampai terlewat, gumamku dalam hati.

Setelah selesai membaca, mmh..., saya merasa perlu membaginya dengan sidang pembaca budiman. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa Anda dapatkan dari kisah ini. Buat yang sudah pernah membacanya, gak pa pa khan kalau membacanya sekali lagi via blog ini ? Hanya 4 halaman buku seukuran novel koq. Silahkan.
Pelajaran Lewat Telepon
Oleh Asma Nadia

Jangan hanya berdoa untuk diri sendiri, Asma ...




Lebih kurang begitulah hikmah yang saya dapatkan dari kisah yang diceritakan oleh Kang Gito Rollies, yang berawal dari upaya saya menyelami doa dari banyak orang,
"Saya berdoa biasa saja, Dimulai dari memohon ampun bagi sendiri, orang tua dan orang-orang terdekat." Dari seberang telepon saya dengar Kang Gito menarik napas panjang, sebelum melanjutkan,"Tetapi ada kejadian yang membuat saya jadi ingin berdoa bagi seluruh umat. Orang-orang baik, bahkan yang jahat sekalipun."

Kang Gito pun menuturkan pengalamannya saat mengunjungi Pakistan dan mencoba berdakwah mengikuti cara para sahabat dulu. Tanpa kendaraan. Benar-benar jalan kaki. Dalam cuaca terik, keinginan lelaki itu semula sempat tidak disetujui beberapa ulama. Hanya mereka yang sudah siap yang sebenarnya diperbolehkan. Mereka yang sudah terbiasa melakukan itu bertahun-tahun. Berdakwah dengan menyusuri satu tempat ke tempat lain, tanpa diangkut binatang atau motor dan mobil. Dalam medan yang berat.

Belakangan keinginan Kang Gito diizinkan. Beliau digabungkan dengan tujuh orang Pakistan untuk berdakwah jalan kaki selama setahun penuh. Menyusuri kampung-kampung. Dalam cuaca yang begitu panas,"Saking panasnya, sleeping bag bisa meleleh, Asma ..."

Sungguh perjalanan yang luar biasa, menurut Kang Gito. Berjalan bersama orang-orang yang memang sudah lama berjuang di jalan Allah. Mereka yang menurut Kang Gito begitu dekat dengan keikhlasan," Mungkin karena keikhlasan itu mereka sering dapat pertolongan Allah. Akan halnya saya, ikut kecipratan buah keiikhlasan mereka." Paparnya rendah hati.

Setidaknya itulah yang dirasakan Kang Gito ketika suatu pagi, secara spontan nyeletuk kepada seorang teman dari Indonesia,"Tiba-tiba saya kangen, terlontar dari mulut, pengin tempe ... Udah lama nggak makan tempe !" Tempe di Pakistan ? Rombongan berjalan jauh melewati gurun demi gurun. Berharap makan tempe seperti mimpi kosong, dalam situasi jauh dari mana-mana."Sore-sore dari atase militer Indonesia untuk Pakistan, Bapak Kol. Arif Rahman datang. Rupanya dia tahu saya ada di sana dan mencoba mencari saya. Segitu niatnya sampai ke tengah gurun."

Kang Gito menceritakan pertemuannya yang unik. Seakan berkah dari langit,"Bukan cuma ketemu beliau, ternyata dia bawa tempe buat saya, Asma !"Kebetulan yang luar biasa, pikir saya. Mungkin dengan cara ini Allah menghibur hamba-Nya yang mencoba mendekat.

"Peristiwa kedua, masih di perjalanan. Kami jalan jauh hingga sampai ke satu perkampungan yang nggak ada listrik. Setelah dapat satu masjid, kami semua keliling datangi rumah satu-satu mengajak orang untuk masuk masjid." Kang Gito melanjutkan kisahnya mendatangi rumah-rumah di sana yang dibangun dari tanah liat dan berukuran kurang dari 4x4 meter.

Udara panas. Matahari sedang terik-teriknya. "Lagi istirahat, mulut saya nyeletuk lagi ke teman: 'Wah kalau ada Coca-Cola dingin enak banget nih !" Coca-Cola di perkampungan yang tidak ada listrik dan alat elektronik apapun di tengah gurun ? Hanya mungkin terjadi dalam iklan di teve batin saya.

Singkat cerita, Kang Gito dan teman-temannya keliling lagi. Mengunjungi satu persatu rumah petak. Kebetulan saat itu Kang Gito menjadi juru bicara rombongan, "Saya mengucapkan salam sambil memperkenalkan ada jamaah yang dari Indonesia, ada yang memang orang Pakistan. Sambil mengundang pemilik rumah dan keluarganya untuk Shalat di masjid nanti malam". Setelah menyampaikan kalimat tersebut, Kang Gito dan rombongan pamit.

"Tiba-tiba Si Bapak yang punya rumah menyuruh saya menunggu," Kang Gito menghentikan ceritanya sejenak. Saya ikut-ikutan menahan napas, "Tahu nggak, Asma ... yang punya rumah nggak lama balik lagi, dan dia bawa Coca Cola dingin buat kami !" Subhanallaah. Sunggguh berkah yang lain ..."Tapi setelah itu saya ditegur sama pimpinan rombongan, dia menasehati saya agar lain kali kalau bicara hati-hati."

Bicara hati-hati, maksudnya ?

Seperti memahami ketidakmengertian saya, Kang Gito menjelaskan,"Kata dia begini : 'Kalau kamu minta jangan minta Coca Cola, tapi mintakan hidayah bagi orang banyak." Sebab permintaan Coca-Cola hanya mendapatkan Coca-Cola. Sedangkan jika seorang hamba memintakan hidayah bagi orang lain, maka akan dapat lebih banyak lagi. "Hidayah ya, ketaatan ya, juga kebaikan, semuanya ! Kita dapat lebih banyak ..."

Sejak dua peristiwa itu, lelaki yang bernama lengkap Bangun Sugito ini menambah satu doa baru dalam list panjang doanya selama ini. "Karena itu saya selalu minta hidayah, agar semua orang selamat. Saya nggak ada musuh. George Bush juga harus kita doain. Saya meminta juga hidayah bagi orang-orang lain yang belum mengenal Allah."

Supaya mereka mengenal Allah, kembali kepada Allah...dan beroleh hidayah. Allahumma Amin


*) Foto dari Swaramuslim.com
*) Mohon maaf buat Asma Nadia jika ada salah-salah ketik dalam penulisan kembali karya Anda