Selasa, 14 Januari 2020

Saya Adalah Detektif Pikachu, ha..ha..ha.. !!!


Photo : Amazon.com

Dalam suatu masa saya pernah memiliki keisengan tingkat tinggi saat mencari informasi tentang seseorang. Sebetulnya itu tidak berguna sama sekali buat saya, tapi saya suka melakukannya. Walaupun beberapa diantaranya juga bermanfaat buat orang-orang yang 'mengorder' saya. Beberapa kisahnya sebagai berikut :


1. Jodoh Siapa Yang Tahu


Ini kisah saat saya bertugas di suatu ibu kota provinsi nun di luar Pulau Jawa sana, awal tahun 90-an.

Suatu hari, Mas Gareng, kakak kelas yang ditempatkan di  remote area, sejauh 5 jam perjalan darat dari tempat kerja saya, bertandang. Dengan semangat dia bercerita bahwa dalam perjalanan tadi dia duduk berdampingan dengan seorang perempuan, menarik, jomblo dan pegawai sebuah bank BUMN. Dengan antusias dan mata berbinar-binar dia bercerita banyak tentang perempuan itu.  

Mungkin teman-teman yang lain tertarik dengan isi ceritanya.  Tidak dengan saya.  Yang mencuri perhatian saya justru gestur, mimik, antusiasme, intonasi dan semangatnya dalam bercerita.Seribu satu kata terucap dari mulutnya,  sesungguhnya hanya satu pesan yang ingin ia sampaikan “Eh kira-kira kalian tahu gak, siapa sih itu anak ? Kali aja temen kalian, atau saudara temen kalian, atau malah warga komplek ini, atau whatever lah ” 

Lalu naluri saya untuk menolong sesama tiba-tiba terbit.  Sepertinya menantang ini ; mencari informasi tentang orang yang hampir anonim, cuman tahu nama panggilan saja, yang ketemu sama temen saya di perjalanan, di jaman belum kenal HP, belum kenal internet apalagi Mbah Google, dan tidak semua rumah punya telepon. Tapi paling tidak clue-nya cukup kuat : ke kota ini dia pulang kampung so dia warga kota ini !

Saya lupa bagaimana cara saya mencarinya waktu itu. Apakah modal Buku Yelow Pages, buku kumpulan nomor telepon yang legend itu. Apakah menelpon layanan info Telkom atau kombinasi keduanya. Atau digabung teknik yang lain lagi. Singkat cerita saya dapatkan alamat dan nomor telepon rumah gadis tersebut.

Esoknya Mas Gareng sudah asyik masyuk ngobrol seru dengan kenalan barunya di depan pesawat telepon.Konon pada akhirnya mereka berjodoh lho Guys. Semoga apa yang saya lakukan ini bernilai ibadah di sisi Allah SWT, karena membantu orang menemukan jodohnya. Amin YRA!


2. Kasih Tak Sampai Anak-anak Yang Berbakti


Masih di kota yang sama, ini cerita tentang kasih tak sampai. Teman sekantor saya, Petruk, semasa SMA saling demen ame anak orang, sekomplek perumahan, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah sono. Untung  tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ternyata orang tua mereka bermusuhan sejak lama. Jadilah kasih tak sampai gegara restu yang tak sampai.  Orang tuanya saling gengsi untuk besanan. Ah... jadi ikut sedih.

Tiba-tiba, Petruk suatu hari.

“Bro, mantan ane baru magang nih, di kota ini,kemaren sore tiba”
“Jauh amat magang ke sini. Kenapa gak di Jawa saja ?
Pengen ketemu ane kali, ha..ha..ha.. ?” 
“Ah… kepedean ente, BTW dapet kabar dari mana ?”
“Dia kirim surat. Tapi dia gak mau kasih tahu tinggal di mana”
“O gitu”

FYI, demenan Si Petruk ini, yaitu Juwita, adik kelasnya satu tahun, kuliah di sebuah akademi kedinasan di Jakarta.

“Tolong dong bantuin cari info dia tinggal di mana”
“What ?

Pekerjaan yang tidak gampang, sepertinya. Tapi melihat cara dia meminta tak tega pula awak menolaknya.Ya sudah,  set..set..sret..sret..  saya buka Buku Yelow Pages. Dengan beberapa asumsi saya susun nomine.  Coba merangkai puzzle lewat beberapa clue.  Ini catet itu catet. Ini coret, itu coret dan seterusnya.  Sampai akhirnya dapat 'tersangka' sekitar 20 nomor telepon rumah

Lanjut telepon secara acak. Apa susahnya nelpon 20 nomor.  Jika salah, tinggal ngaku salah sambung. Ya gak ?

"Halo, selamat sore, bisa bicara dengan Juwita ?“ 
"Maaf salah sambung” Krekep, telepon ditutup.No problemo. 

Lanjut...

“Halo, selamat sore, bisa bicara dengan Juwita  ?”  Krekep, tanpa dijawab telepon ditutup

Dan akhirnya, pada nomor telepon kesekian, bahkan belum sampai ke sepuluh.

“Halo, selamat sore, bisa bicara dengan Juwita ?”
“Sebentar ya, dari siapa ini ?” Suara seorang ibu-ibu di seberang sana.

JACKPOT !!!

Segera gagang telepon saya angsurkan ke Petruk. Geli-geli gimana gitu ngelihat dia akhirnya haha hihi teleponan berlama-lama hingga larut malam.

CLBK ? Sepertinya tidak. Mereka berdua anak-anak yang patuh kepada orang tua koq. Bahkan untuk urusan cinta.


3. Let This Remain a Secret


Di sebuah kota di Jawa Barat yang berhawa sueejuk. Temen saya, Antasena, jago maen bola. Posisi favoritnya gelandang serang.  Jika kantor mengadakan pertandingan dia selalu masuk line up. Baik tanding di kota sendiri atau tandang ke kota lain. 

Suatu hari, Jam 8  malam, bakda isya, sepulang  dari pertandingan persahabatan di luar kota. 

“Bro, elu tahu  **** ************ gak ?Tiba-tiba Antasena menyebut sebuah nama. 

"Kagak, emang siapa dia ?" Jawab saya sekenanya. Memang saya tidak tahu sama sekali nama yang dia sebut. 

“Adik kelas, tadi jadi panitia pertandingan. Tadi sempet ngobrol tapi cuman sebentar" Dia kasih clue. 

“Elu naksir ?Saya mulai menyelidik. 

"Kagak, pengen kenal ajaDia menyangkal

"Lah , khan tadi udah ngobrol, berarti udah kenalan dong ?”  Saya gak mau kalah. 

"Ya juga sih, he..he.. Maksudnya pengen kenal lebih dalam” Jawab dia sambil terkekeh. 

“ Ah, elu … muter-muter kayak tukang taksi ngakalin argo.Tunggu sampai jam 10 malam” Jawab saya belagak jagoan.

Malam-malam, dimintai tolong nyari info orang yang saya tidak kenal, yang tinggal di sebuah kota kecil 100 km dari tempat kami?  Oh Mbah Google kenapa engkau telat lahir ? Eh, boro-boro Google, bahkan HP pun belum menjadi keseharian orang. Ya iyalah, kalau sudah ada HP mereka tinggal tukeran nomor, kelar urusan. 

Hampir sejam saya ngoprek alamat di kota tempat ia tinggal. Pake tool apa Bro ? Pengen tahu aja ! Atau pengen tahu bingitz ? Hasilnya ? Nihil !  Jangan-jangan ia tinggal di Platform 9 ¾ yang hanya bisa ditembus oleh Harry Potter ? Janji menemukan jam 10 akhirnya gagal total. 

Besoknya strategi diubah. Gagal mengoprek lokasi kota tinggalnya, kita coba oprek kampung halamannya. Tarrraaa …. tidak pake lama, saya dapatkan alamat rumah dan nomor teleponnya.

“Halo, Selamat Malam, bisa bicara dengan Melati” Padahal saya tahu Melati sedang tidak di rumah, he..he... 

"Ini siapa ya?” terdengara suara seorang ibu sepuh.

“Saya teman kuliahnya,  Bu”  Jawab saya, saya manis-maniskan.

“Oh, Melatinya tidak di rumah Mas.  Sudah 6 bulan dia penempatan di kota anu“ 

"Boleh tahu alamatnya Bu ?“ 

"Saya kasih no telponnya saja ya”

Alhamdulillaah, fajar mulai menyingsing. Segera saya hubungi nomor yang dikasih ibu tadi. 

“Halo, Selamat Malam, bisa bicara dengan Melati

"Dari siapa ya?” suara ibu-ibu terdengar merdu. Pasti ibu kostnya.

“Dari temannya Bu”

“Tutup dulu ya, ntar telepon lagi. Saya panggilin dulu. Kostannya agak jauh. Di sebrang jalan. Sekitar 10 menit jalan kaki”

“ Baik Bu, terima kasih”

Pantes gak kesentuh oprekan saya. Ternyata dia tinggal di sudut dunia yang terisolir dari peradaban. Saya ulurkan gagang telpon ke Antasena yang wajahnya berbinar-binar sambil mengacungkan dua jempolnya ke saya. Alhasil malam itu cukup lama dia ngobrol dengan Melati, dengan segala kecanggungannya. 

Sejak kejadian itu Antasena memanggil saya dengan sebutan ‘Agen’, sampai sekarang, merujuk pada sebutan untuk pelaku spionase. Jika di suatu kerumunan tiba-tiba ada yang berteriak ke arah saya 'Gen !', tanpa melihatpun saya sudah tahu itu Antasena. Hanya dia yang memanggil saya demikian.

Akhir ceritanya ? In the end they just become friends.  

Qadarullah, di kemudian hari saya berada di kantor yang sama dengan Melati dan menjadi mitra dalam pekerjaan. Bahkan saat ini sering ketemu, baik dalam rapat, dalam kegiatan kantor lainnya atau just say hello saat ketemu di lift, tanpa ia tahu bahwa pada jaman ‘purbakala’ dulu saya pernah melacaknya, demi teman saya.  But, let this remain a secret, toh gak penting juga ia tahu.


4. Wish You All The Best, Mawar


Ini cerita saat internet telah menjadi keseharian orang dan data digital dengan mudahnya bisa kita tambang. Asyiiik !!

Suatu hari iseng-iseng saya buka akun medsos saya yang sudah berlumut.  Eh ternyata ada DM dari temen lama, Mawar. Ya sudah saya balas just say hello saja plus basa-basi sedikit.

Tiba-tiba naluri Pikachu saya muncul. Jari-jemari ini mulai gatal untuk mencari  informasi tentangnya.  Bertapa sebentar, baca mantra, daaaaan ……….berubah jadi kuciiing. Meeeooong ! Enaknya jadi kucing, bisa masuk rumah orang lewat pintu dapur. Siapa tahu dapat ikan asin nganggur yang lupa ditutup sama pemiliknya. 

Dalam sekejap terkumpul seonggok info didepan mata ; namanya Anu, seorang ayah baik hati, suka menolong dan rajin menabung he..he.., status perkawinannya, dua anaknya mulai beranjak dewasa, nama saudaranya, kota asal, pekerjaan, nama kantor, hobi, akun medsosnya dan info lainnya baik yang penting maupun yang remeh temeh. Oh ternyata mereka kenal di perjalanan antar kota antar provinsi dari kota anu ke kota anu, pada tanggal sekian, saat menghadiri pernikahan teman kerja Mawar  yaitu si Anu, yang menikah dengan Anu, asal kota Anu, yang bekerja di  perusahaan Anu, dan seterusnya. 

Beberapa waktu mobilitas dan aktifitas Mawar terpantau oleh saya. Tidak ada yang aneh. Rumah, kantor, mall, dan tempat wisata di akhir minggu. Semua normal.  

Saatnya test the water ! 

“Eh Mawar, elu kenal gak sama Si Anu ? “ Tanya saya memancing.

“Tahu dari mana lu ? Jangan sebut-sebut nama itu dong. Please ya, please!”  Tiba-tiba dia nyolot, lalu dalam sekejap menghiba-hiba.   

Ha..ha..ha. Nah khan, mangkanya kalau masih takut terbakar, jangan maen api ! 
Sebagai teman, sebetulnya saya pengen banget nasehatin dia  “Elu jangan jadi PLKR dong, kagak baek, kasihan rumah tangga orang !”.Tapi saya  gak mau membuat kesimpulan terlalu dini.  Ntar jatuhnya su’udzon. Ya gak Pren ?

Ada ribuan  teman. Kita bebas memilih mana yang kita ingin staying in touch  atau saying good bye.  Dan untuk yang ini, saatnya untuk saling mendoakan yang baik-baik saja lah.  Wish you all the best ya Mawar. Tanpa saya, teman kamu juga sudah banyak khan ? Dalam sekejap dia saya unfriend. Bye Bye !

Selasa, 14 November 2017

Homo Homini Lupus


Photo : www.faunadanflora.com

Pernah dengar istilah di atas ? Homo homini lupus, istilah yang dikenalkan oleh Thomas Hobbes itu, bermakna manusia adalah serigala bagi manusia yang lain.

Mungkin sering kita dengar kelakar demikian ; orang susah bilang nanti makan apa, sedikit kaya bilang makan dimana, begitu kaya dan berkuasa bilang nanti makan siapa. Nah orang yang berpikiran nanti makan siapa inilah manusia penghayat istilah di atas.

Suatu hari di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Saya duduk termangu menunggu Kereta Api Senja Utama yang akan mengantarku ke Klaten.

Jarum jam telah menunjukkan lewat pukul enam sore. Suasana sangat sibuk. Beribu-ribu orang lalu lalang tergesa. Dari air muka letihnya, bisa dipastikan mereka adalah para pekerja pulang kantor. Terburu ingin segera sampai di rumah menemui orang-orang tercinta.

Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada seorang bapak tua.  Maaf, dengan jelas terlihat beliau tidak bisa melihat. Tongkat di tangan kanan membantunya meraba arah jalan. Wajahnya kuyu, bajunya lusuh. Di bahu kiri tergantung tas kresek, membulat agak besar, entah apa isinya. Meskipun demikian tak terlihat dia asing dengan situasi sekitar. Mungkin stasiun ini selalu disinggahinya setiap hari.

Tiba-tiba seorang pengasong koran datang menghampirinya.  


"Mau kemana, Beh !" Ujarnya tanpa basa-basi. 

"Bekasi" Bapak tua menjawab singkat

"Udah tunggu aja dulu di sini, kereta masih lama" Kata pengasong sambil menarik tangan bapak tua dan mendudukkannya di kursi tunggu.

Tidak lama berselang kereta jurusan Bekasi tiba. Hiruk pikuk orang berebut menaikinya. 


Si pengasong sigap menuntun bapak tua. "Barangnya biar aku bawain" 

Bapak tua menyerahkan seluruh bawaanya. Sampai di depan pintu kereta pengasong menahan bapak tua agar jangan dulu masuk.  

"Masih banyak orang" Katanya. 

Aneh. Padahal hampir semua orang sudah masuk kereta. Tinggal satu dua. Tidak ada alasan untuk menahan bapak itu.

Terdengar derit roda bergesekan dengan rel. Sambungan berderak, gerbong bergoyang tanda kereta segera berangkat. 


Pengasong mendorong bapak tua ke dalam gerbong sambil memerintahkan "Masuk Beh, kereta mau berangkat"

Tubuh renta itu terdorong ke dalam, tepat saat kereta mulai melaju. Dalam sekejap ular besi itu hilang dari pandangan.

Pengasong bergegas menuju pojokan. Dengan bernafsu ia tumpahkan tas kresek itu. Isinya berserakan. Tidak jelas apa. Beberapa diantaranya berpindah ke dalam kantongnya. Sisanya ia tendang ke tempat sampah.

Ternyata, untuk menjadi pemangsa bagi sesamanya, orang tidak selalu harus kaya dan berkuasa terlebih dahulu. Kaya,miskin, lemah, kuat sami mawon. Yang membedakan hanya motivasinya ; kavling kekuasaan, akses politik, portofolio korporasi atau (sekedar) recehan hasil mengemis seharian pengemis renta tuna netra.

Duh, dadaku berdesir....

Rabu, 08 Januari 2014

Hariku Yang Lucu



Photo : imgbin.com

Kamis pagi, 9 Januari 2014 di loby sebuah hotel. "Taksi mas' Ucap saya ke salah seorang petugas front liner. Sejenak ia bicara via HT.

Tak menunggu lama sebuah taksi tiba. Taksi opo iki Rek ? Belum pernah saya lihat taksi merek beginian. Bukan Expr*ss, Putr*, K*sti, Cip*g*nti, C*l*brity, Prim*j*s*, T*x*ku atau merek yang familiar lainnya.

Seumur-umur order taksi di hotel ini yang datang selalu taksi biru. Tapi tidak kali ini.

Bismillaah. Saya masuk.

Wew, Pak sopirnya sudah sepuh. Simbah-simbah. Bicaranya sudah agak groyok. Pake sandal jepit doang. Pas ia ngobrol dengan petugas frontliner, hujan rintik-rintik dari mulutnya :-D

'Kemana Pak ?' Tanyanya. 'Lapangan Banteng' Jawab saya.

Ok, berangkat !

Sekitar 10 menit perjalanan, taksi berhenti. 'Ada apa Pak' Tanya saya. 'Ini kakiku kayak kesetrum' Jawabnya sembari membetulkan beberapa kabel yang berjuntai-juntai, sambil mengelus-elus kaki kanannya.

Taksi jalan kembali.

Kira-kira 100 m sesudah keluar pintu gerbang Ancol, ia berhenti lagi.'Bentar ya Pak, ditahan dari tadi akhirnya gak tahan juga' Katanya. 'Apa yang ditahan Pak' Tanya saya. Ia tak menjawab, tapi langsung ngeloyor keluar.

Oo saya tahu. Saya berpikir ia akan numpang di toilet dekat sini, atau turun ke selokan, atau sembunyi di balik pohon.

Tetapi ?!

OMG, di tengah lalu lalang orang di jalanan itu ia dengan cuek mepet di belakang taksi, dan 'kran air' pun dibuka. Seeerr ! Duh, Mbaaah ...! Saya yang duduk di dalam merasa seakan-akan punggung saya ikut tersiram sesuatu. Ha..ha..ha..

Urusan selesai, Simbah masuk taksi. Tiada acara cuci-cuci. Cuci tangan atau cuci yang lain. Pokoke praktis dah.

Tarik Maaang !

'Gunung Sahari macet Pak, lewat tol aja, ntar keluarnya Cempaka Putih' Ia menawarkan. Saya setuju aja, karena saya tahu, jalur normal, Jl. Gunung Sahari jam segitu memang macet berat. Muter dikit gak papa. Eh, muter banyak ding !

Bayar tol…. Saya ulurkan 10 ribu. Dia angsurkan kembalian 2 ribu. Pas saya terima itu uang, baru kepikir, tadi di belakang taksi tangannya pegang apa ya, trus sekarang buat pegang duit, trus sekarang duitnya saya pegang. Hii.......

Huaaa..haa..haa..haa......

Keluar Cempaka Putih jalan mulai tersendat. Tiba-tiba ia mengeluarkan 'senjata rahasia' dari laci dashboardnya; minyak kayu putih cap K*p*k. Ia balurkan itu minyak ke tubuhnya. Dada, punggung, leher, tengkuk.... Walhasil ruang taksi yang memang sudah tanpa pewangi itu, bagaikan tenda pengungsi Suriah yang di bom senjata kimia rezim Bashar Al Assad. Breng …!

Sampai di Galur, Simbah ngajak ngobrol lagi. 'Nanem pohon di jalan gini gak ada gunanya Pak, ntar gede dikit bingung nebangnya' Ia berlagak aktivis lingkungan hidup, sambil menunjuk pohon baru tanam di sisi jalan layang Galur.

'Kenapa gak sekalian ditanem pohon kelapa saja ya, he..he..he..' Lanjutnya sambil cengengesan.

'Kalau pohon kelapa, kalau pas Simbah lewat kelapanya jatuh trus kena gundul Simbah, trus gundulnya Simbah benjol siapa yang tanggung jawab ?' Kata saya. Tapi tentu saja hanya di dalam hati.

Ana-ana bae Simbah iki. Ada rasa dongkol, juga lucu melihat kekonyolannya.

Singkat kata, sampailah taksi di kantor. Argo menunjukkan angka dua kali lipatnya argo taksi kemaren sore, waktu saya berangkat dari kantor ke Ancol. Padahal yang kemaren taksi tarif atas.

Yo wis ra popo !

Doa saya semoga Mbah Sopir sehat wal afiat agar dapat terus bekerja. Rejekinya lancar dan berkah. Anak dan cucu berbakti semua. Amien !

Naik taksimu lagi Mbah ? Emoh ....., kecuali dalam situasi darurat amat sangat terpaksa dan tak ada pilihan lain.

Tapi ngomong-ngomong kalau Simbah tahu konsep service excellence mungkin penumpang akan lebih enjoy dan ada peluang repeat order kali ya.

Goodbye Mbah, wish you all the best !

Selasa, 18 Januari 2011

Pertanyaan Orang Awam tentang Antibiotik

Photo : epthinktank.eu


‘Yang ini diminum sampai habis ya Pak’. Demikian selalu dikatakan oleh dokter atau pegawai apotek seraya menunjuk salah satu kemasan s‘Hmm...ini pasti antibiotik’, batin saya. Sepanjang ingatan saya setiap saya atau keluarga berobat selalu ada antibiotik dalam resep yang kami terima.
aat saya menerima paket obat dari mereka.

Demikianlah adanya, antibiotik harus dihabiskan. Konon, jika tidak dihabiskan hanya akan membuat kuman resisten atawa kebal. Jika itu yang terjadi maka Si Sakit akan butuh antibiotik yang lebih sakti lagi. Begitu seterusnya.

Ada yang mengganjal di hati ini. Logika bahwa antibiotik habis=kuman mati belum sepenuhnya saya terima.

Kalau tujuan akhirnya menewaskan kuman kenapa pesannya tidak ‘Yang ini diminum sampai kumannya mati ya Pak’. Jika perlu ditambahi ‘Jika kumannya belum mati juga silahkan ke sini lagi biar kami tambahi dosisnya’

Mungkin kita spontan berkata ‘Bagaimana orang awam seperti kita bisa mengetahui kumannya sudah mati atau tidak’.

Ok, kalau demikian lalu kita akan bicara masalah pendosisan. Jika rumusnya adalah habis=kuman mati, asumsinya dokter tahu betul berapa dosis untuk masing-masing pasien untuk tiap jenis kuman untuk tiap jenis penyakit. Sehingga saat memutuskan dosis dokter punya keyakinan penuh jika antibiotik dihabiskan maka kuman mati ceteris paribus. Karena apalah gunanya dihabiskan kalau dosisnya kurang dari yang seharusnya. Itu sama saja dengan dosisnya cukup tapi tidak dihabiskan, bukan ?

Lalu saya berburu tahu. Pernah saya tanyakan ke seorang dokter pengasuh sebuah blog, bagaimana sih dosis antibiotik ditentukan ? Dia menjawab bahwa dosis antibiotik ditentukan berdasarkan berat badan pasien. Saya pegang jawaban itu hingga suatu kali saya berobat ke dokter dan rekaman ‘Yang ini diminum sampai habis ya Pak’ diperdengarkan lagi. Saya ingat-ingat, dan yakin betul dari sejak pendaftaran hingga menebus obat tak sekalipun saya diminta menimbang badan atau ditanya dokter perihal berat badan. Apakah pengasuh blog itu yang tidak menjawab yang sebenarnya ataukah dokter itu yang tidak menjalankan SOP dalam menegakkan diagnosa, atau hanya dengan melihat penampakan saya dokter itu bisa menebak berat badan saya ? Entahlah.

Ada dikatakan bahwa kuman dapat kebal terhadap antibiotik. Untuk mengatasinya pasien butuh antibiotik yang lebih sakti lagi. Jika demikian adanya lalu kenapa saat dokter memberikan resep antibiotik tidak dulu diyakinkan bahwa kumannya tidak kebal dengan antibiotik yang akan diberikan ? Jika yang terjadi sebaliknya bukankah hanya sia-sia belaka yang kita dapat meskipun itu antibiotik kita habiskan ?

Tulisan di atas jika dibaca oleh orang yang tahu duduk permasalahannya sangat mungkin ada banyak kelucuan, keluguan, atau kerancuan baik dalam substansi maupun pemakaian istilah. Semua itu –pastinya- akibat ketidaktahuan saya. Tak mengapa. Itulah faktanya : saya awam dalam hal ini plus sedikit paranoid akan kesehatan. Justru karena itulah tulisan ini saya buat.

Juga ada sedikit prasangka bahwa ada kesembronoan di dunia kedokteran dalam pemberian antibiotik kepada pasien. Semoga prasangka saya salah.

Anda tahu jawaban atas hal-hal di atas ? Ditunggu komentarnya. Khususnya para dokter, apoteker, ahli farmasi nyuwun pencerahannya nggih.



Sabtu, 01 Januari 2011

Naik KRL Bersama Orang-Orang Hebat Indonesia


Photo : express.co.uk

Senin 26 Oktober 2009 saya mendapat undangan ‘konser’ dari teman-teman Subdit Setelmen Transaksi di Wisma Anggraini, Puncak. Konser adalah bahasa slank untuk konsinyering, yang arti gampangnya adalah rapat di luar kantor.

Sesudah malam yang produktif itu, pagi-pagi, sehabis Subuh saya segera berkemas. ‘Pulang kapan Man ?’ Tanyaku ke Iman, teman sekamar, dengan nada menawarkan untuk pulang bersama. ‘Aku agak siangan, Mas. Bareng rombongan aja’ Sahutnya, sambil mengibaskan selimut, bergegas hendak melanjutkan boboknya. No problemo, Man. Tapi saya harus sampai kantor sepagi yang saya bisa. Hari ini, tiga kolegaku off. Satu cuti haji, satu pulang kampung menghadiri pemakaman neneknya, satu lagi tidak aktif. Jika saya tidak ngantor, karena status saya sedang tugas luar, bisa kacau dunia. (sok penting mode on).

Dari Cisarua, setelah ganti angkot dua kali sampailah saya di Stasiun Bogor. Untuk menuju Jakarta ada beberapa pilihan. Kereta Pakuan Express, Ekonomi AC, serta Ekonomi Biasa. Pilih yang mana ? Lempar koin ! Gambar berarti naik Ekonomi Biasa. Angka berarti naik Pakuan Ekpress. (Jangan percaya ini hanya dramatisasi saja he..he..). Pilah-pilih, timbang-timbang naik Ekonomi Biasa saja, secara saya termasuk kasta sudra ini….. Ongkosnya murah. Cuman dua ribu perak. Perjalanan sejauh itu hanya seharga dua kali pipis di toilet umum.

‘Yang ke Kota mana Bang ?’ tanyaku ke tukang koran, takut salah naik. 'Ini nih' Jawabnya sambil menunjuk kereta di hadapanku. Tidak ada lagi tempat duduk tersisa. Jadilah saya berdiri dekat pintu sambil berpegang pada besi ram pelindung blower yang sudah tidak lagi berfungsi. ‘Ini ke kota ya Bang ?’ Tanyaku ke penumpang sebelah, untuk lebih meyakinkan. ‘Gak tahu saya’. Lho piye tho ? Ya sudah saya yakin-yakinkan diri bahwa saya tidak salah naik. Tak berapa lama kereta berangkat. Duh, dari stasiun pertama saja sudah demikian padat.

Saya tidak hapal urut-urutan stasiun sejak Bogor hingga Kota ; Bojong Gede, Cilebut, Citayam, trus ….? Baru stasiun ketiga, menurut ukuran normal, gerbong sudah tidak mampu lagi dimuati lebih banyak penumpang. Namun demikian orang-orang itu dengan gigih tetap berusaha merangsek ke dalam laksana serbuan Banzai tentara bayonet Dai Nipon dalam Pertempuran Saipan di Kepulauan Marianna Pasifik. Semua calon penumpang di stasiun seakan-akan pelari sprint menunggu aba-aba wasit. Semua dalam posisi ‘bersedia’ saat kereta nampak di kejauhan. Derit rem kereta adalah aba-aba ‘siap’. Hentakan kereta berhenti adalah bunyi ‘prit’ peluit. Semua berebut. Lady first ? Semua lady ! Semua first !

Stasiun demi stasiun. Gelombang demi gelombang manusia. Turun satu naik seribu. Tidak ada lagi sisa ruang untuk sekadar menggeser kaki. Berani mengangkat kaki, siap-siap tidak dapat ruang menapak kembali. Saat masinis mengerem, penumpang terlempar ke depan. Tergencet. Pegangan terlepas. Saat kereta berangkat penumpang terlempar ke belakang. Tergencet lagi. Pegangan terlepas lagi. Sejauh ini tidak terdengar keluh-kesah. Yang ada justru celotehan. ‘Masinisnya becanda nih’ Terdengar gurauan. Saat himpitan makin tak tertahankan, mulai terdengar ‘Aduh-aduh, jangan dorong-dorong dong Pak’ Seru ibu-ibu di dekat tangga. ‘Naik kereta dua ribu perak ini, jangan pake marah dong’ Sahut Si Bapak galak. Orang-orang hanya tersenyum. Lebih banyak lagi tak peduli. Namun tidak ada amarah.

Di stasiun yang ke sekian kereta berhenti. Agak lama. Saya hampir tidak tahan. Saya belum sarapan. Saya merasa diri ini tinggal kepala. Leher ke bawah entah kemana. Mati rasa. Tenggelam dalam lautan peluh. Penumpang-penumpang adalah kepala-kepala yang thingak-thinguk kiri-kanan berebut oksigen. Berhenti berarti pertukaran udara di gerbong juga berhenti. CO2 yang dihembus penumpang sebelah saya hirup. CO2 yang saya hembus dihirup penumpang sebelah lagi. Demikian seterusnya. Rupanya kereta kaum proletar ini sedang menunggu kereta kaum borjuis, Pakuan Ekpress yang hendak mendahului.

‘Kemaren ada copet dipukuli sampai babak-belur‘ Seorang bapak membuka pembicaraan. ‘Kalau dia bukan copet beneran, gimana coba ? Kasihan khan !’

‘Ah, biarin aja. Ngapain kasihan. Rumusnya memang pukulin dulu, siapa tahu dia copet beneran’ Timpal rekannya. Ternyata komunitas komuter ini punya logika berpikirnya sendiri.

Kereta Pakuan Ekpress lewat. Lampunya menyala terang. ACnya berhembus sejuk sepoi-sepoi. Penumpang duduk aman sentosa di dalamnya. Kereta apiku seakan menunduk takzim, mempersilahkan tuannya mendahului.

‘Menteri-menteri baru itu, belum-belum sudah mau naik gaji. Termasuk menhub. Benerin dulu dong KRL. Ini sudah tidak manusiawi’ Seorang lelaki, tepat di hadapanku, dengan logat swarnadwipa tiba-tiba berpidato. Orang-orang tak mengacuhkannya. Tak mengapa. Anggap saja itu sebagai katalis atas kesuntukan hidupnya selama ini. ‘Sekali kali menteri-menteri, anggota DPR atau presiden sekalian, suruh rasain naik KRL. Biar mereka tahu keadaan rakyatnya, bla..bla..bla..Gara-gara penuh sesak begini, kasihan tuh mahasiswi-mahasiswi gak berani naik' Kutuknya dengan nada kesal sambil mengarahkan pandangan ke wajah-wajah bening yang bergerombol di plasa stasiun. He..he.. koq ujung-ujungnya mahasiswi. Yang gak berani naik gak cuman mereka, Om. Tuh, Mbok-mbok jamu gendong dan Kang Sudar kuli gali tanah juga manyun di stasiun menunggu kereta berikutnya.

Sudah sampai mana, Bang ?’ Tanyaku kepada seorang anak muda.
‘Cikini’ Jawabnya.
‘Juanda ?’
‘Oh, sebentar lagi. Habis Gambir’

Saat stasiun warna orange itu di depan mata, saya bersiap turun. Ternyata saya yang semula berdiri di depan pintu, terdorong cukup jauh ke dalam. Sekian langkah baru saya capai pintu keluar.

Dalam perjalanan menuruni tangga.

’Emang biasanya begini ya Pak ?’ Tanya saya kepada bapak paruh baya sambil berjalan beriring.
‘Ini tadi kita dapat diskon 50%, maksudnya biasanya dua rangkaian delapan gerbong, tadi cuman satu rangkaian empat gerbong’ Jawabnya. ‘Tapi gak beda jauh deh meskipun dua rangkaian juga, teteup, empet-empetan’ Imbuhnya.

Kutengok atap kereta. Penuh orang-orang duduk santai. ‘Ah andai saya tadi naik ke situ, tentu tak perlu saya tahankan semua ‘penderitaan’ ini’ Rutukku. Apakah Anda pernah berpikir bahwa naik di atap kereta adalah perbuatan bodoh, tidak berpendidikan dan membahayakan diri sendiri ? Cobain dulu deh naik KRL Ekonomi Biasa, baru komentar. Anda juga baru akan tahu kenapa segala daya upaya– menyemprot dengan pewarna, menanam besi lancip atau mengolesi atap dengan oli - tidak pernah berhasil mencegah hal itu.

Perjalanan ini memakan waktu hampir dua jam. Selain badan remuk redam, tampilan saya, tentu saja acak adut tak karuan. Benar keputusan saya untuk pakai polo shirt saja. Sementara pakaian kerja saya simpan rapi dalam back pack. Tangan, wajah, rambut, kaos, celana hampir-hampir seperti habis diguyur hujan. Semua kuyup oleh keringat. Mampir toilet dulu ah ! Basuh-basuh, ganti baju, trus menuju ke kantor yang tidak seberapa jauh dari situ.

Kawan, apakah saya terlihat cengeng ketika menceritakan semua ini ? Seakan-akan ini adalah peristiwa istimewa hebat tak terlupakan, momen historis yang perlu dikenang sepanjang masa, yang karena sebegitu pentingnya hingga saya merasa perlu menuliskannya dalam blog ini ? Sementara ibu-ibu itu, bapak-bapak itu mengalaminya setiap hari, menjalaninya sebagai rutinitas dan menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tak berlebihankah jika saya menyebut mereka orang-orang hebat, yang atas nama tanggung jawab mencari nafkah untuk keluarga, setiap hari, ya setiap hari, bertahun-tahun, rela berpeluh, berdesakan, berjibaku, pagi berangkat kerja bertumpuk-tumpuk kaya ikan pindang, sore  pulang kerja 
berdempet-dempet kaya bandeng presto demi orang-orang yang dicintainya ?

Ada Apa dengan Toko Emas ?



        
Photo : Jewelsbox.co


            Cerita ini berasal dari kisah nyata seorang pembeli emas perhiasan di sebuah toko emas di sebuah pusat perbelanjaan, jika dari arah pintu tol Cibinong (Jagorawi), sebelah kiri, tidak seberapa jauh sebelum Pasar Cibinong. Sebut saja ia Investor Emas (IE) dan tokonya Toko Emas (TE). 

          Secara garis besar kisahnya adalah kekesalannya atas penentuan harga emas perhiasannya, yang ia nilai sepihak dan tidak masuk akal, saat ia hendak menjualnya kembali ke toko emas langganannya, setelah ia simpan bebeberapa lama. Namun anehnya saat ia menjual emas yang lain yang ia beli di sebuah kota nun di sebuah kota di Sumatera sana, hal serupa tidak terjadi.
IE : Berani beli berapa emas saya, Koh (22 karat, berat sekian gram) ?
TE : Rp. 170 ribu/gram Bos
IE : Walah, murah sekali Koh. Gimana tuh ngitungnya ? Harga emas 22 karat hari ini saja sudah Rp. 250 ribu per gramnya. Masak selisih harag jual dan beli 28% ? Yang bener aja Bro. 
IE sempat survey dulu, dengan berpura-pura mau beli emas, di toko itu sebelumnya, jadi dia tahu persis harga hari itu.
TE : Itu harga belum ditawar Bos, apalagi Bos khan dulu belinya cuman Rp. 140 ribu per gramnya. Tuh ada di suratnya.
IE : Lho apa hubungannya dulu saya beli berapa dengan sekarang dibeli berapa. Mestinya lu hargai emas saya sesuai harga hari ini. Kalau memang dikurangi biaya bikin, silahkan. tapi ya gak sampai 28% lah. Enak aja. 
TE : Hitungannya emang gitu Bos. Toh Bos sudah untung khan ? Dulu beli Rp. 140 ribu/gram sekarang dibeli Rp. 170 ribu/gram ? Masih untung make lagi.
IE : Sok tahu lu untung make. Orang gelang ini nyaris gak pernah dipake.
TE : Udahlah Bos. Bos udah untung banyak nih. Baru pegang setahun udah untung sekian.
IE : Bukan begitu Koh. Hari ini aku juga bawa perhiasan yang lain. Di sebelah berani beli Rp. 224 ribu/gram dikurangi biaya bikin. Pertanyaannya : sama-sama emas 22 karat, sama-sama dijual hari ini kenapa harganya berbeda jauh hanya karena lihat di suratnya dulu belinya dengan harga berbeda.
IE kebetulan juga menjual perhiasannya yang lain di toko sebelah. Karena dulu beli Rp. 224 ribu/gram, maka toko tersebut menawarkan harga yang sama, Rp. 224 ribu/gram dikurangi ongkos bikin. IE memutuskan untuk batal melepas barangnya karena rugi. Ia akan menyimpannya dan menjualnya lagi suatu saat.

TE : Emang begitu Bos. Harus dilihat, dulu belinya berapa baru dihitung harganya.
IE : Gak masuk akal Koh. Trus kalo ada orang dateng ke sini mo jual emas jaman Majapahit ia dapat nemu dari kebun gimana ngitungnya. Pan lu gak bisa lihat harga belinya, orang dia dapat dari nemu.
TE : [TERDIAM AGAK LAMA, kemudian]Tapi Bos udah untung banyak lho. Bandingin sama HP. HP Bos yang dapet beli setahun lalu dijual hari ini sudah turun banyak harganya. Bahkan mungkin gak laku.
IE : Yaaah, makin lucu aja lu, Koh. Masa emas dibandingin ma HP. HP tahun 90an dijual sekarang gak ada yang mau beli. Tapi, jangankan emas tahun 90an, emas jaman Fir’aun pun laku dijual hari ini.
TE : [TERDIAM AGAK LAMA]
IE : Udahlah Koh. Saya minta harga gak tinggi-tinggi amat koq. Taruhlah harga jadi hari ini Rp. 240 ribu/per gram. Saya minta harga itu dikurangi biaya bikin 15 ribu/gram jadi Rp. 225 ribu per/gram. Gimana ?
TE : Wah berat Bos. Gak mungkin di atas Rp. 200 ribu/gram
Berkali-kali TE mesti nelpon bosnya (yang sedang tidak ditempat) menghadapi pelanggan ngeyel ini. Setelah ‘berkelahi’ selama hampir satu jam, hanya untuk menjual dua gelang dan satu cincin, akhirnya IE mendapat harga mendekati Rp. 200 ribu/gram. Rupanya TE lelah juga menghadapi pelanggan yang mau ‘bertempur’ seperti itu.

Sebulan kemudian saat Lebaran, IE pulang ke Dumai. Tak lupa ia bawa beberapa perhiasan yang ia beli di sana. Akan ia lego pula itu asset. Hah..!, ternyata guampang buaaanget jualnya. Gak perlu ‘berantem’, apalagi sampai sejam.
IE :Harga emas 22 karat hari ini berapa Da ? (Uda adalah panggilan setara Bang bagi laki-laki Sumatera Barat)’.
UDA :Rp. 235 ribu Om.
IE : Aku mau jual, berani beli berapa ?
UDA :Harga hari ini dikurangi biaya bikin 25 ribu. Jadi Rp. 210 ribu per gram
IE :Biaya bikin jangan banyak-banyak. Rp. 20 ribu aja ya. Jadi per gramnya Rp. 215 ribu.
UDA :Ok. Ini sekian gram jadi totalnya sekian-sekian.
IE serahkan barangnya. Si Uda serahkan duitnya. Beres ! Padahal perhiasan itu bukan dibeli di toko Si Uda, tapi toko sebelahnya yang masih tutup karena libur lebaran. Kebetulan ia juga dititipi perhiasan lain milik adik iparnya untuk dijual, setelah ia simpan selama empat tahun. Ternyata toko emas berani beli hampir dua kali lipat dari harga yang tertera di surat. Itu artinya nilai perhiasan tersebut tumbuh 100% selama empat tahun alias 25% per tahun. Jauh di atas rata-rata bunga deposito.

IE memang investor emas hardcore. Ia tahu betul ia tidak (belum) lihai terjun di dunia investasi sektor riil. Tapi ia juga gak mau didzalimi perbankan yang hanya memberikan hasil atas tabungannya sebesar 1-2 % per tahun dikurangi biaya administrasi dan pajak itu.

"Dengan hasil segitu sama saja saya bunuh diri di tiang gantungan inflasi" cetusnya. 

Yup, dengan tingkat inflasi VERSI RESMI yang rata-rata 11 % itu, kenaikan tabungannya tidak mampu mengejar kenaikan harga-harga. Kalau VERSI RIIL bahkan Anda sendiri bisa mengira-ira sendiri. Dalam setahun ini, beras yang anda beli, cabe, gula, minyak, susu, kontrakan rumah, harga mobil, motor adakah yang hanya naik 11 % ? Rasanya lebih dari itu !

Untuk itu ia melindungi nilai (value protection) assetnya dengan menyimpannya dalam bentuk emas. Sejauh ini dalam setahun tingkat kenaikan harganya selalu di atas tingkat inflasi. Akan lebih besar lagi kalau ia mau berlaku sebagai spekulan. Tapi ia tidak lakukan itu.

Pengalaman ‘pahit’ berantem dengan toko emas itu membuatnya ambil keputusan tidak akan lagi membeli perhiasan, kecuali sekadar yang cukup untuk dipakai istrinya. Atau kalaupun mesti beli perhiasan ia tidak akan pergi ke toko emas itu. Selain itu ia sudah punya pilihan lain. Beli logam mulia (gold bar) di PT. Logam Mulia atau koin emas dalam bentuk dinar di Gerai Dinar. Setiap hari harga beli dan jual di-declare. Jadi jelas.

Sejauh ini ia lebih memilih membeli dinar di Gerai Dinar.‘Gampang ngitung zakatnya’ kilahnya. Yups, tiap 40 keping dinar yang telah disimpan selama setahun ia sisihkan 1 keping (2,5%) untuk diserahkan ke lembaga zakat sebagai zakat mal. Praktis ! Memang ada plus minusnya gold bar versus dinar, jika dilihat dari aspek perpajakan, tingkat ke-likuid-an, kemudahan untuk dibagi, dsb. Tapi ia sudah memutuskan.

Sidang pembaca yang budiman, adakah yang juga memiliki kisah serupa, saat menghadapi toko emas yang ‘reseh’. Atau jika Anda pemilik toko emas, sebetulnya gimana sih mestinya Anda ngitung harga saat seseorang mau jual perhiasannya. Apakah seperti Si Koh, apa seperti Si Uda ?


Rabu, 03 November 2010

Hakekat Nilai dari Ilmu, Pesan Albert Einstein kepada Mahasiswa Carolina Institute of Technologi (1938)



Photo : https://www.space.com


Bagi yang pernah belajar Ilmu Pengetahuan Alam, atau Fisika hampir tidak mungkin tidak mengenal orang yang satu ini. Albert Einstein ! Fisikawan teoretis yang lahir pada 14 Maret 1879 dan meninggal 18 April 1955 pada umur 76 tahun ini, hampir-hampir menjelma menjadi manusia setengah dewa bagi para pengagumnya. Einstein, relativitas, E=MC2, bom atom adalah empat serangkai yang tidak bisa dipisahkan bagi penggemar awam tokoh ini. Kenapa penggemar awam ? Karena sosok Einstein jauh lebih komplek dan komprehensif dari sekadar empat hal tersebut. Salah satunya adalah sisi manusiawinya. Dikisahkan bahwa Einstein stress berat dan marah besar kepada Presiden Harry S. Truman saat mengetahui formula racikannya yang menghasilkan bom atom digunakan untuk membumihanguskan Hiroshima dan Nagasaki.

Berikut ini adalah pidato Einstein yang mewakili sisi manusiawi ilmuwan terkenal tersebut, yang disampaikan kepada mahasiswa Carolina Institute of Technologi pada tahun 1938. Isi dari pidato tersebut kurang lebihnya adalah agar sejauh-jauh seorang ilmuwan melakukan riset maka pijakannya haruslah demi kemaslahatan kehidupan itu sendiri.

Rekan-rekan yang Muda Belia,
Saya merasa sangat bahagia melihat Anda semua di hadapan saya, sekumpulan orang muda yang sedang mekar yang telah memilih bidang keilmuan sebagai profesi.

Saya berhasrat untuk menyanyikan hymne yang penuh puji, dengan refrain kemajuan pesat di bidang keilmuan yang telah kita capai, dan kemajuan yang lebih pesat lagi yang akan Anda bawakan. Sesungguhnya kita berada dalam kurun dan tanah air keilmuan. Tetapi hal ini jauh dari apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Lebih lanjut, saya teringat dalam hubungan ini kepada seorang muda yang baru saja menikah dengan seorang istri yang tidak terlalu menarik dan orang muda itu ditanya apakah dia merasa bahagia atau tidak. Dia lalu menjawab, "Jika saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta."

Begitu juga dengan saya. Marilah kita perhatikan seorang Indian yang mungkin tidak beradab, untuk menyimak apakah pengalaman dia memang kurang kaya ataukah kurang bahagia dibandingkan dengan rata-rata manusia yang beradab. Terdapat arti yang sangat maknawi dalam kenyataan bahwa anak-anak dari seluruh penjuru dunia yang beradab senang sekali bermain meniru-niru Indian.

Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita ? Jawaban yang sederhana adalah - karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar.

Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia budak-budak mesin, dimana setelah hari-hari yang panjang dan monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual, dan harus terus gemetar untuk memperoleh ransum penghasilan yang tak seberapa. Kamu akan mengingat tentang seorang tua yang menyanyikan sebuah lagu yang jelek. Sayalah yang menyanyikan lagu itu, walau begitu, dengan sebuah itikad, untuk memperlihatkan sebuah akibat.

Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda - agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan. Janganlah kau lupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.

----------------------------------------------------oo00oo----------------------------------------------------

Catatan pribadi :
Saat menulis ini jiwa saya melayang, flash back 20 tahun ke belakang. Menclok di kelas 3A13, ruang di sisi lorong gerbang, SMA Negeri 1 Klaten.

Sekilas tercium bau harum bunga-bunga Acacia Longifolia yang rontok di halaman tengah. Ditingkahi hilir mudik ABG-ABG tanggung mengenakan kaos kelas kebanggaan. Entah ada berapa kelas yang memproklamirkan diri sebagai 'Einstein mania' menyematkan foto diri Dewa Fisika itu di dadanya.

Bergerak perlahan slideshow di pelupuk mataku, menampilkan satu persatu wajah para guru yang kami hormati, yang menorehkan sebagian warna-warni jalan hidupku, kemaren dan hari ini. I miss you all ! Khususnya guru Fisika saya..... Pak Wanto..... 

Pak Wanto, panjenengan berbeda ! Tanpa basa-basi Bapak pukulkan palu pengetahuan dengan sangat keras ke ubun-ubun kami. Kadang menyakitkan. Tapi justru karena itu pakunya menancap kuat hingga hari ini. 'Mikir ki nganggo iki, ra nganggo iki' Kata Bapak ketus. Iki yang pertama Bapak menunjuk jidat. Iki yang kedua Bapak menunjuk dengkul. Kekekekeke......

Hingga kami penasaran karena soal ulangan Bapak tidak pernah mirip dengan yang di buku pegangan terbitan manapun. Indah ! Begitu Indah ! Bukan hanya alur logikanya tapi juga angka-angka jawabannya. Angka-angka yang keriting saat perhitungan itu tiba-tiba secara ajaib menjelma menjadi angka cantik pada jawaban akhir. 

Suatu hari, kami sekelas sedang serius mengerjakan ulangan Bapak. Seperti biasa, Bapak tidak pernah menunggui kami. Eeee ... ditunggui atau tidak sama saja sih. Mau nyontek gak ada di buku, nanya temen sama-sama judeg. Senyampang Bapak menikmati Kretek Gudang Garam Merah di luar kelas, salah seorang dari kami, Abdul Rochim, berjingkat-jingkat ke meja guru, membalik kitab kuning stensilan azimat Bapak. 'Buku jaman Londo...! teriak Abdul Rochim 'Ujian AMS 1920 ...! lanjutnya. Terlihat ekspresinya kaget campur heran. Begitu juga dengan kami. 

Senin, 17 Mei 2010

Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya

Berhenti SUKSES - berhenti GAGAL Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti BERANI - berhenti TAKUT Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti OPTIMIS - berhenti PESIMIS Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti MENYUKA - berhenti MEMBENCI Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti MEMILIKI - berhenti KEHILANGAN Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti BERHARAP - berhenti CEMAS Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti GEMBIRA - berhenti BERDUKA Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya ------------ STA, 18 Mei 2010

Rabu, 24 Februari 2010

Apa Yang Sudah Mereka Lakukan di Malaysia, Sejauh ini ?


Saya kutipkan berita dari Kompas dotcom tanggal 8 Oktober 2009, di bawah ini. Berita aslinya ada di sini.

Secara garis besar, ini cerita tentang dedengkot LSM di Indonesia yang membuat pernyataan bahwa LSM nya akan mengirim 1.500 relawan ke Malaysia menyikapi memanasnya hubungan Pemerintah RI dengan Malaysia. Relawan dikirim secara bertahap sejak 9 Oktober hingga 25 Oktober 2009. Pengiriman dilakukan lewat darat, laut dan udara melalui -meminjam istilah dedengkot tersebut- jalur masuk yang tidak pernah akan diduga oleh Malaysia.

Hari ini sudah tanggal 24 Februari 2010. Artinya sudah lebih dari empat bulan sejak tanggal yang dinyatakan pada saat itu pemberangkatan pertama dilakukan. Namun, koq masih adem ayem saja ya ? Ah jangan-jangan para dedengkot itu bohong ! Jangan-jangan bukannya dikirim ke Malaysia, mereka justru dikirim pulang kampung. Atau jangan-jangan, bahkan, LSM itu tidak punya massa sebesar itu. Jika diantara sidang pembaca ada yang ahli strategi militer, tolong dong kasih pendapat, untuk memberangkatkan dan menghidupi relawan sebanyak itu di negeri orang, dalam kondisi siap melakukan operasi, selama sekian bulan, dengan nilai tukar IDR jauh lebih rendah dari MYR, berapa rupiah dibutuhkan.

Jika hasilnya sangat besar, maka kesimpulannya LSM itu sangat kaya atau paling tidak memiliki donatur yang sangat kuat. Tetapi mungkin juga sebaliknya, kalau melihat LSM itu tiap kali demo hanya membawa spanduk dari cat semprot, jangan-jangan dedengkot LSM itu hanyalah seorang pembual.
  
Kehormatan Indonesia dan warga negaranya penting untuk dijaga. Tapi -tentu saja- tidak dengan cara membual. Alih-alih menegakkan kehormatan, membual hanya akan membuat pelakunya jadi bahan tertawaan.
 
 
Ribuan Relawan Ganyang Malaysia Diberangkatkan Mulai 9 Oktober
Laporan wartawan KOMPAS.com Rosdianah Dewi
Kamis, 8 Oktober 2009 | 14:04 WIB
Rosdianah Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com — Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) akan memberangkatkan 1.500 relawan ke Malaysia. Langkah ini dilakukan guna mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa. Dan juga untuk melindungi setiap warga negara Indonesia yang berada di Malaysia.

Koordinator Bendera Mustar Bona Ventura, mengutip Sekretaris Nasional Central Bureau (NCB)-Indonesia Brigjen Pol Halba Rubis Nugroho, mengatakan, setiap hari satu WNI meninggal di Malaysia. "Dan dalam tiga tahun terakhir, 1.421 WNI tewas di Malaysia karena penyiksaan dan pembunuhan. Hal itu tidak bisa didiamkan. Bendera pasti akan turun tangan dengan atau tanpa izin," ujar Mustar di Jakarta, Kamis (8/10).

Menurut Mustar, pihak Bendera tidak gentar walau Dewan Keamanan Nasional Malaysia telah menyiagakan keamanan di setiap perbatasan untuk menghadapi kedatangan relawan Bendera.

Bendera tetap akan memberangkatkan para relawan sesuai jadwal awal. Pemberangkatan relawan berjumlah 1.500 ini akan dilakukan secara bertahap melalui jalur masuk yang tidak pernah akan diduga oleh Malaysia. "Bisa melalui jalur udara, darat, dan laut. Tapi tidak bisa kita jelaskan secara rinci," ujar Mustar.

Pemberangkatan pertama dilakukan pada tanggal 9 Oktober. Pada waktu itu, Bendera akan memberangkatkan 200 relawan, dan diperkirakan sampai ke Malaysia pada tanggal 14 Oktober 2009.

Pemberangkatan berikutnya, 125 relawan pada tanggal 11 Oktober, 125 relawan lainnya pada tanggal 15 Oktober, 600 relawan pada tanggal 17 dan 19 Oktober, dan 400 relawan pada tanggal 22 Oktober. Dan pemberangkatan terakhir pada tanggal 25 Oktober, yaitu 50 tim medis.

Mustar mengaku aksi ini didukung 8.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di Malaysia. "Tercatat 8.000 TKI yang siap bergabung dan mendukung gerilya yang dilakukan oleh relawan Bendera," katanya.