Jumat, 02 Oktober 2020

Panglima Yang Terluka

Photo : id.berita.yahoo.com

Namanya Turmudzi (bukan nama sebenarnya), seorang lelaki berperawakan tinggi, besar dan gagah. Kulit gelap serta kumis melintang menambah wibawanya. Ia putra seorang ulama sekaligus tokoh Masyumi (Majelis Syuro Muslimin)  di Kabupaten Boyolali. Keluarganya terpandang dan terhormat.

Saat itu, Boyolali merupakan wilayah basis PKI (Partai Komunis Indonesia). Pada Pemilu 1955 di kabupaten itu  PKI menang telak dengan memperoleh 150.097 suara. Disusul Masyumi dengan 43.298. Kemenangan yang luar biasa. Suara Masyumi yang berada di peringkat kedua tidak sampai sepertiganya. 

Bagi seorang Masyumi, tinggal di daerah seperti itu layaknya uji nyali. Ngeri-ngeri sedap. Apalagi PKI beserta organisasi underbow-nya terkenal agresif dalam meluaskan pengaruh. 

Rivalitas politik yang tinggi melahirkan gesekan hingga bentrokan di akar rumput. Tak terkecuali keluarga Turmudzi dengan pendukung PKI. Namun sejauh itu belum pernah terjadi bentrokan secara frontal. Salah satu sebabnya PKI pasti akan berhitung ulang untuk menggangu keluarga itu, karena ada Turmudzi di sana.  

Laiknya santri jaman dulu, selain belajar agama mereka juga belajar silat dan ulah kanuragan. Turmudzi pun demikian. Ia terkenal sebagai pendekar pilih tanding. Nyali serta kehebatannya dalam beladiri tidak diragukan lagi. 

Namun PKI tidak kurang akal. Tidak berani mengganggu secara langsung, mereka memilih jalan memutar. Membidik sasaran yang empuk dulu, soft target, yaitu kerabat Turmudzi. 

Maka mulailah satu persatu kerabat Turmudzi ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Bermula dari Pakdenya. Ditemukan meninggal dalam kondisi terikat di sebuah jurang. Akibat peristiwa ini Budenya depresi berkepanjangan. Beberapa waktu kemudian Pak Liknya tergantung di sebuah pohon di ladang tak jauh dari pemukiman.  Tak berselang lama sepupunya tewas ditusuk orang tak dikenal dalam kejadian pembegalan saat pulang dari pasar. Demikian berturut-turut kejadian-kejadian tragis menimpa kerabat-kerabat yang lain. 

"Kerabat saya hampir habis Dik. Tinggal beberapa yang selamat. Saya tahu, PKI sedang memainkan strategi double kill, membunuhi sedulur saya satu-satu sekaligus ingin menjatuhkan mental keluarga saya. Mereka berfikir saat mental kami jatuh akan gampang 'diselesaikan' " Cerita beliau, kepada bapak saya, pada suatu senja ditingkahi gemericik air hujan yang jatuh dari teritisan rumah.  

Beliau memang sahabat baik keluarga kami. Beliau memanggil bapak saya Dik. Bapak memanggilnya Mas. 

Di masa tuanya beliau rutin berkunjung ke rumah kami. Dalam kunjungan-kunjungan itulah beliau berkisah banyak tentang salah satu episode hidupnya yang paling penting sekaligus genting ; mempertahankan hidup dan kehormatannya dari kekejian PKI.

Menghadapi kenyataan kerabatnya diperlakukan demikian amarahnya membuncah. Tidak ada kata lain dalam pikirannya kecuali balas dendam. 

Hingga datanglah kesempatan itu. RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) mulai masuk ke daerah-daerah, tidak terkecuali Boyolali. Mereka diberi tugas untuk  membasmi anggota dan simpatisan PKI sebagai imbas percobaan kudeta komunis yang gagal pada 30 September 1965. 

Bergegas ia mengumpulkan pengikut dan membentuk pasukan. Dia sendiri yang menjadi panglimanya. Berbekal pemahamannya tentang wilayah basis PKI, ia merangsek ke daerah-daerah sekitar. Dendam yang membara menjadi bahan bakar amukannya. Ditambah keyakinan bahwa membunuh orang PKI adalah membunuh musuh agama dus musuh Tuhan. Bersama pasukannya, desa demi desa, dusun demi dusun ia bumihanguskan. Catatan kecil dalam sakunya menjadi petunjuk siapa-siapa yang harus 'diambil' untuk kemudian dieksekusi. 

Semua orang bergidik mendengar namanya. Sosoknya sering digambarkan sebagai seorang yang keras dan tidak kenal ampun kepada segala hal yang berbau PKI. Kelewang panjang yang disandangnya makin menegaskan kegarangannya.

"Kalau ada kabar Pak Turmudzi akan masuk suatu desa, semua orang lari bersembunyi, baik pengikut PKI atau bukan. Bahkan mereka mengungsi dan bersembunyi di tempat yang sama" Kata Pak Suranto, Guru olahraga SD saya yang juga berasal dari Boyolali. 

Kalau orang PKI wajar takut, tapi yang bukan PKI kenapa mesti takut? 

"Takut salah sasaran" Kata Pak Suranto singkat. 

Sebuah alasan yang masuk akal. Pada masa itu kadang sulit membedakan siapa kawan siapa lawan. Strategi infiltrasi komunis membuat mereka ada di mana-mana tanpa terendus, bahkan di dalam organisasi-organisasi keagamaan.

Dalam suatu kesempatan bapak saya pernah bertanya "Mungkin gak Mas, yang sampeyan bunuh ada yang bukan orang PKI ?" 

Pak Turmudzi diam sambil menarik napas dalam-dalam. Matanya menerawang ke langit-langit. Sejenak hening. "Mungkin saja" Jawabnya lirih hampir tak terdengar. "Apa boleh buat" Lanjutnya seakan meminta permakluman. 

Beliau kemudian bercerita bahwa setidaknya ada dua macam target saat itu. Yang pertama orang-orang yang jelas ke-PKI-annya. Orang-orang ini memang terang-terangan memproklamirkan diri sebagai anggota PKI. Beberapa diantaranya masuk struktur pengurus. Bahkan sebagiannya beliau kenal secara personal. Tidak ada keraguan atas mereka. 

Yang kedua orang-orang yang namanya tertera dalam catatan kecil yang selalu beliau bawa. Ada nama dan alamat lengkap di situ. Konon catatan itu dipasok oleh tentara. Jangankan tahu wajah, bahkan kebanyakan nama-nama itu tidak beliau kenal sebelumnya. 

"Berapa orang yang  sampeyan bunuh, Mas ?" Tanya bapak di lain waktu. 

"Saya sendiri kalau 80-an sepertinya ada. Yang oleh anah buah saya, entah berapa"  Jawab Pak Turmudzi. 

Waktu berlalu. Pemerintahan Orde lama tumbang digantikan Orde Baru. PKI dibubarkan. 

Suatu malam Pak Turmudzi dipanggil bapaknya. Ada kegalauan di mata sosok sepuh itu memandang anak lelakinya yang duduk takzim di hadapannya. 

"Wis mantep tenan kowe, Le (benar sudah mantap kamu, Nak) ?" Tanyanya dengan wibawa seorang ulama sekaligus orang tua. 

"Sampun, Rama (Sudah, Bapak)" Pak Turmudzi menjawab dengan penuh rasa hormat. 

"Yo wis, nek ngono wiwit saiki ora ana maneh urusan bapak anak aku karo kowe (Ya sudah, kalau begitu mulai sekarang tidak ada lagi hubungan bapak anak antara saya dengan kamu)" 

Pak Turmudzi terhenyak mendengar itu. Ia masih termangu saat orang tua itu beranjak dari hadapannya dengan wajah kecewa. 

Ini seperti sebuah drama dengan plot twist. Akhir cerita tidak terduga. Kadang tidak sesuai harapan penonton. Bahkan membuat kecewa. Tapi bukankah dunia tempat segala kemungkinan ? Pahlawan tidak selalu tampil sempurna. Sepanjang masih manusia maka ia tentu memiliki sisi lemah. 

Pak Turmudzi, putra seorang ulama, sosok hero pembela agama itu, pada masa senjanya, sepeninggal istrinya yang meninggal setelah menderita sakit bertahun-tahun, menyatakan diri 'tidak mau lagi menjalankan syariat Islam", misalnya sholat, puasa dan sebagainya.

Beliau memilih menekuni aliran kepercayaan kejawen dalam sisa hidupnya. Meskipun secara formal (di KTP dan dokumen kependudukan lainnya) beliau tetap beragama Islam. Tidak ada yang tahu pasti latar belakang keputusan ini.

Itulah sebabnya orangtuanya tidak lagi menganggapnya anak. 


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا، وَمَيِّتِنَا، وَصَغِيرِنَا، وَكَبِيرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا

Ya Allah, ampunilah orang yang hidup dan yang sudah meninggal di antara kami, yang masih kecil dan yang sudah dewasa, yang laki-laki maupun perempuan, yang hadir maupun tidak .....” (Al-Adzkar An-Nawawi).


Disclaimer :
Kisah-kisah ini berasal dari tuturan kakek, nenek, orang tua, guru serta lingkar pergaulan saya di kampung, sebuah dusun di lereng Merapi, dimana kaum komunis pernah berusaha mendominasi wilayah itu. Beberapa adegan merupakan hasil imajinasi saya semata, namun tetap sejalan dengan substansi cerita. Apakah kisah-kisah ini benar adanya ? Saya mempercayainya. Anda percaya silahkan, tidak  juga boleh. Bebas-bebas saja.Meskipun secara substansi saya meyakini kebenarannya, namun secara detil cerita mungkin ada bias di sana-sini. 


Suradi Blêdhèg, MMC dan Grayak

Photo : Koleksi pribadi

27 Januari 1951 satu regu patroli terdiri dari satu regu Yonif 417, CPM dan 30 polisi menyusuri jalan dari Kota Klaten melewati Kebonarum, Karangnongko, Kemalang naik menuju lereng Gunung Merapi.  

Mereka ditugaskan untuk membubarkan rapat gerombolan MMC (Merbabu Merapi Complex) di Dusun Kaliwuluh sekaligus menangkap tokoh-tokohnya. 

MMC adalah kumpulan eks kombatan perang kemerdekaan yang kecewa karena tersingkir imbas kebijakan Re-Ra (Reorganisasi Rasionalisasi) Kabinet Hatta. Kebijakan ini mensyaratkan hanya eks kombatan yang pernah dilatih KNIL atau eks PETA yang dapat direkrut menjadi tentara yang digaji pemerintah. Petempur tanpa 'pelatihan formal' silahkan minggir. 

Merasa senasib sepenanggungan mereka memutuskan memberontak kepada pemerintah dan membuat basis di sekitar Gunung Merapi dan Merbabu, di hutan dan jurang yang sulit dijangkau pasukan pemerintah.

Untuk mencukupi logistik mereka berkomplot dengan bandit lokal yang sudah eksis lebih dahulu yaitu Grayak (Gerakan Rakyat Kelaparan). Adalah lazim saat itu ketika sebuah rumah dirampok, berita yang berkembang di masyarakat adalah 'rumah itu digrayak'. Kata grayak sudah menjadi sinonim baru kata rampok. 

Jarahan favorit mereka sapi. Selain untuk persediaan logistik di persembunyian, sapi juga dikirim ke Semarang sebagai penukar senjata yang dipasok serdadu Belanda. Mereka juga gemar mendatangi pesta adat seperti pernikahan atau khitanan untuk melucuti perhiasan hadirin. Itulah mengapa saat itu orang tidak berani mengenakan perhiasan saat menghadiri pesta. "Wedi (takut) digrayak" Kata nenek saya.  

Aksi-aksi kriminal ini menimbulkan keresahan yang akhirnya melahirkan antipati terhadap gerakan ini.  

Pada awalnya MMC tidak berafiliasi kepada partai politik atau ideologi manapun. Seiring berjalannya waktu, orang melihatnya mempunyai hubungan erat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Hal itu dipengaruhi salah satunya, karena banyaknya eks kombatan berideologi komunis, yang bergabung dengan MMC.   

Salah satu dedengkot MMC adalah Suradi Blêdhèg ( 'e' pertama dibaca seperti kerbau, 'e' kedua dibaca seperti bebek). Blêdhèg (Bhs. Jawa) berarti petir. Ia mendapat julukan itu karena suaranya yang mengguntur menggelegar. Ia juga terkenal sakti mandraguna. 

Singkat cerita, pergerakan pasukan itu terendus telik sandi MMC yang segera menginformasikan ke peserta rapat. Suradi Blêdhèg bergerak cepat membubarkan rapat. 

Apakah mereka bubar untuk lari dan sembunyi ? Sama sekali tidak. Bukan Suradi Blêdhèg jika tidak nekat. Ia justru memerintahkan orang-orangnya untuk menyongsong pasukan itu.

Di sepanjang perjalanan mereka menggedor rumah orang-orang untuk dipaksa bergabung.  Di bawah ancaman senjata, rakyat yang sebenarnya membenci mereka terpaksa bergabung dengan membawa senjata seadanya ; arit (sejenis celurit), pedang, parang, kelewang, kapak, linggis, tongkat, balok kayu dan sebagainya. Dalam waktu singkat massa yang semula puluhan itu menjadi ratusan. 

Di Desa Dompol, tiga kilometer dari lokasi rapat, kedua kelompok bertemu. Pasukan patroli sama sekali tidak menduga akan dihadang massa sedemikian besar. Membenturkan pasukan dengan massa sebanyak itu sama saja bunuh diri. Dengan segera komandan memutuskan untuk mundur. 

Tragedi dimulai. Pasukan lari kocar-kacir dikejar massa dengan beringas. Satu persatu tertangkap dan (maaf) dicincang di pinggir jalan. Massa semakin membesar karena sepanjang pengejaran, gerombolan terus menggedor rumah-rumah penduduk dan memaksa mereka bergabung. 

Konon, hanya tersisa satu orang yang selamat. Tentara itu, the last standing man, menceritakan bahwa saat sampai di Desa Mipitan, enam kilometer dari Desa Dompol, ia sudah hampir tertangkap. Beruntung ada truk pengangkut tembakau lewat. Dengan tenaga yang tersisa ia melompat ke atas truk. Sopir yang menyadari situasi segera melajukan kendaraannya. Maka selamatlah dia. 

Akibat kejadian itu pemerintah bertindak tegas dengan menggelar tiga operasi sekaligus yaitu Operasi Merdeka Timur 1 (OMT 1) , Operasi Merdeka Timur 2 (OMT 2) serta Operasi Merapi Merbabu (OMM). 

Pada 1 April 1951 Suradi Blêdhèg berhasil ditewaskan oleh tentara di Desa Brintik, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten.

Tersisa kisah saat benggol itu tewas. Dikisahkan Suradi Blêdhèg selalu berpindah tempat. Lari kesana kemari, berganti tempat sembunyi. Menghindari pengejaran. Sekali dua hampir tertangkap namun selalu lolos. Tapi pelarian semakin sulit saat tentara mulai melibatkan aparat desa untuk mempersempit ruang geraknya. 

Kisah berakhir di sebuah rumah persembunyian. Saat ia disergap seorang tentara muda. Kelelahan fisik dan mental membuatnya tak mampu lagi berlari. Namun, konon, sisa-sisa kesaktiannya masih bertuah. Berondongan senapan, jangankan membunuhnya, menggores kulitnyapun tidak.

"Anak muda, kamu hanya bisa menyakitiku, tapi tidak membunuhku. Hanya saya sendiri yang bisa melakukannya" Katanya lirih. 

"Berikan pistolmu anak muda. Biar saya akhiri hidupku sendiri. Cukup sudah penderitaanku di dunia ini. Aku lelah. Percayalah ini bukan siasat. Kamu lihat sendiri berjalan saja saya kesusahan" Lanjutnya menghiba. 

Entah mengapa tentara itu percaya. Setelah menerima pistol, dengan mengesot Suradi Blêdhèg masuk ke salah satu kamar. Sesaat kemudian terdengar letusan. Dor !

Saat ditengok jasadnya telah terbujur kaku. Darah membanjir membasahi lantai. Pistol terselip di -maaf- anusnya. Ia menembak dirinya di bagian itu. 

Ternyata itu rahasia kesaktiannya.  

Disclaimer :
Kisah-kisah ini berasal dari tuturan kakek, nenek, orang tua, guru serta lingkar pergaulan saya di kampung, sebuah dusun di lereng Merapi, dimana kaum komunis pernah berusaha mendominasi wilayah itu. Apakah kisah-kisah ini benar adanya ? Saya mempercayainya. Anda percaya silahkan, tidak  juga boleh. Bebas-bebas saja.Meskipun secara substansi saya meyakini kebenarannya, namun secara detil cerita mungkin ada bias di sana-sini.

Kamis, 27 Februari 2020

My Paranormal Experiences

Photo : hartalangit.blogspot.com



Kali ini saya ingin menulis yang agak serius. Adakah yang lebih serius di dunia ini selain cerita tentang hantu ? Eh .... maksud saya bukan serius, tapi menyeramkan. Wkwkwk...

Saya orang kampung. Adalah biasa anak kampung akrab dengan cerita perhantuan. Baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami oleh orang-orang di sekitar saya. Sialnya, yang saya alami hanya sedikit. Mungkin 'mereka' tidak selera mencandai saya kali yak ?

Mari kita mulai teman.

Cerita 1 : Ketindihan

Dulu di rumah saya, terdapat kamar yang tidak ada orang yang berani tidur di dalamnya. Kakak saya pernah mencobanya, dan akhirnya kabur karena di tengah malam, tiba-tiba didatangani sepotong tangan yang membara seperti besi terbakar, hendak mencekiknya. 

Lalu pada suatu malam, dengan gaya sok berani, saya sengaja tidur di situ, dengan keyakinan penuh tidak akan terjadi apa-apa. Lalu apa yang terjadi terjadilah. Dalam keadaan belum tidur, kesadaran masih utuh dan tak terbersit sedikitpun rasa takut, tiba-tiba mulut saya menggigau tidak karuan. Saya berusaha diam, tapi tidak bisa. Mulut saya tidak bisa saya kuasai, seperti dibajak entah oleh siapa.

Tetapi tidak ada penampakan apapun sodara-sodara. 

Ibu yang sedang menonton TV di kamar tengah segera menghambur ke dalam kamar dan bertanya 

"Ada apa Le ?" 

Mendengar ucapan ibu tersebut, tiba-tiba kendali atas mulut saya kembali.

"Gak ada apa-apa Bu" Jawab saya 
"Trus, kenapa ngigau kayak gitu" Lanjut ibu saya
"Gak tahu Bu. Pengennya diem tapi mulut gak bisa dikendalikan"
" Lagian, ngapain tidur di sini segala. Kurang kerjaan aja. Udah, pindah kamar depan sana"

Yaaah, penonton kecewa dong. Padahal saya sudah niat mau teruskan sampai pagi, untuk membuktikan tidak ada yang perlu ditakutin dari kamar itu. Tapi jika Ibu sudah bertitah, tak sanggup pula saya membantahnya. Mission failed !

Dengar dari orang-orang kejadian seperti itu biasa disebut ketindihan.

Cerita 2 : Apakah Ia Genderuwo ?

Suatu malam, ibu terbangun dari tidurnya karena mendengar langkah kaki, berlari tergesa, gedubrak-gedabruk, masuk halaman rumah. Jam menunjukkan sekitar pukul 11 malam.

Ternyata mereka adalah adik saya dan seorang temannya. Ibu segera membukakan pintu dan bertanya.

"Ada apa Le ? "
"Ceritanya nanti saja Bu, sekarang minta air minum dulu" Jawab adik saya gemetaran, terengah-engah dengan wajah pucat pasi.

Setelah keduanya tenang mulailah mereka bercerita.

Alkisah mereka baru pulang dari menghadiri acara di masjid kampung saya yang berjarak kurang lebih satu kilometer. Saat itu, listrik belum masuk kampung kami. Jalan, meskipun sudah beraspal bagus, kalau malam gelap gulita tanpa penerangan lampu. Di kiri kanan rimbun ditumbuhi pepohonan, terutama pohon bambu. Di beberapa tempat bambu dari sisi kanan dan kiri merunduk dan bertemu di atas jalan membentuk lorong panjang. Saat bulan mati, tanpa senter Anda tidak akan bisa melihat arah jalan.

Beruntung malam itu bulan purnama. Sehingga jalanan tidak terlalu gelap. Mereka berdua jalan dengan santai sambil bercengkerama. 

Tiba-tiba mereka merasa ada yang mendahului. Sekelebat ada bayangan lewat di samping. Pada awalnya mereka tidak memedulikan dan meneruskan senda guraunya.

Hanya saja tiba-tiba mereka sadar. Keanehan sedang terjadi. Bayangan yang mendahului mereka, yang seharusnya semakin jauh semakin kecil, justru semakin besar dan semakin tinggi. Terus membesar dan meninggi. Saking besar dan tingginya cahaya purnama yang semula terang benderangpun tertutup sama sekali.  Jadilah mereka benar-benar dikurung kegelapan hingga tak dapat melihat apapun.

Menyadari hal itu seketika mereka ambil langkah seribu. Jarak dari tempat kejadian dengan rumah sekitar 1/2 kilometer.  Saat berlari mereka sangat khawatir kalau-kalau bayangan itu mengikutinya. Untungnya tidak.

Ibu menasehati agar mereka segera cuci muka dan segera tidur dan tidak terlalu memikirkan kejadian barusan. Sambil berusaha memejamkan mata, mereka hanya bisa menebak-nebak, apakah itu yang dinamakan Genderuwo ?

Cerita 3 : Tuyul Ngusilin Fans MU


Pada rentang 1992 - 1997 saya bertugas di KPKN (Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara) Padang. Suatu hari saya mendapatkan tawaran dari Kasubag Umum untuk menempati paviliun kantor yang sudah lama tak terpakai.

"Daripada kontrak rumah mending tinggal di sini Wan. Uangnya bisa buat kebutuhan yang lain" Katanya meyakinkan saya.

Butuh dua hari untuk membereskan paviliun itu agar layak ditinggali. Dibantu cleaning service, berkarung-karung arsip dokumen saya pindahkan ke gudang. Kotoran dan sarang laba-laba kami bersihkan. Debu-debu kami pel sehingga bau pengap hilang.

Tinggal di tempat itu, sejujurnya, cukup menantang. Tempatnya di sudut belakang kantor, gelap saat malam dan agak tersembunyi. Jika terjadi sesuatu, bahkan, satpam yang berjaga di depanpun tidak akan tahu. Jika malam-malam butuh berwudhu atau menunaikan hajat harus turun ke lantai satu, menyusuri lorong yang gelap gulita yang cukup jauh, baru sampai toilet.

Sebulan tinggal sendirian semua aman terkendali.  Pada bulan kedua saya mendapat tambahan pasukan. Adik kelas saya, sebut saja Gambleh, ikut bergabung. Alhamdulillah. Bisa jadi teman ngobrol menjelang tidur.

Hingga suatu pagi ....

Sebut saja, Ronaldo, adik kelas saya yang lain, tiba-tiba datang ke ruang kerja saya.

" Mas pinjam kunci paviliun dong " Pintanya.
" Mau ngapain Ron ?"
" Mau numpang tidur Mas, semalem lembur"

Oh, saya paham. Pasti semalem dia nonton Liga Inggris sampai pagi. Dia memang fans fanatik Manchester United yang semalem maen.

Kunci saya serahkan, ia lalu bergegas menuju paviliun. Saya kembali melanjutkan pekerjaan.

Berselang 15 menit tiba-tiba Ronaldo menghambur ke ruangan saya dengan wajah pucat pasi dan nafas memburu, sambil menyerahkan kembali kunci paviliun.

"Ada  apa Ron?" Tanyaku penasaran
"Gak jadi numpang tidur Mas" Jawabnya sedikit gemetar.
"Loh, kenapa ? " Tanyaku lagi

Lalu berceritalah ia tentang apa yang baru saja dialaminya.

Menurutnya saat ia berbaring dan berusaha memejamkan mata, dalam kondisi antara terjaga dan tidur, tiba-tiba muncul sesosok anak kecil, botak, mengitarinya. Yang menyeramkan adalah setiap kali anak kecil itu memutarinya satu kali, ia membelah jadi dua. Memutari dua kali, membelah jadi empat, dan seterusnya. Sampai akhirnya ruangan itu penuh anak kecil dengan suara riuh. Tak kuat menahan rasa takut, ia langsung bangkit, ambil langkah seribu dan lari ke ruangan saya.

Duh, serem juga cerita kau Ron. Tapi, apa boleh bikin, saya tetap lanjut tinggal di situ. Ngeri-ngeri sedap juga sih sebetulnya. Apalagi kalau Gambleh pergi ngelayap entah kemana dan baru pulang malam-malam. Tapi sampai saya pindah dari situ, tak ada sesuatu kejadian ganjil atau aneh-aneh yang menimpa saya. Alhamdulillah

Cerita 4 : 'Hantu' Gedung Belanda

Saat istri hamil anak kedua, ibu mertua memintanya pulang ke Dumai. Mertua kasihan melihat anaknya hamil sambil mengurusi anak pertama yang baru berumur lima bulan. 

Jadilah saya bujang lokal. Sehari dua hari pulang kerja tanpa disambut istri, it's okay Man. Tapi setelah seminggu akhirnya suntuk juga. Buat apa sampai rumah isya, tidak ada yang menyambut, besok pagi subuh berangkat lagi. Akhirnya saya putuskan untuk tidur di kantor sahaja. Dan itulah akhirnya yang terjadi; tidur di kantor sendirian, selama 6 bulan, di gedung yang berdiri sejak jaman Belanda, dengan banyak cerita horor yang beredar. 

Terjadi kejadian mistis ? Alhamdulillah hanya dua kali, hanya ecek-ecek, dan saya masih berusaha mencari pembenaran bahwa itu hanya karena perasaan saya saja, dan bukan sesuatu yang bersifat supranatural. 

Kejadian pertama saat bulan puasa. Sebagai 'bujang lokal' yang tidur di kantor, acara buka puasa masjid kantor adalah acara yang ditunggu-tunggu. He..he.. 

Suatu sore, begitu adzan Maghrib berkumandang saya bergegas meninggalkan ruangan. Saat hendak membuka pintu ruangan yang terbuat dari kaca, remang-remang dari balik kaca terlihat sesosok bayangan melintas. Yang terpikir oleh saya saat itu adalah mungkin OB atau pegawai lembur yang juga akan buka puasa di masjid. Namun anehnya saat pintu saya buka tak ada seorangpun. Sekencang-kencangnya orang jalan mestinya masih terlihat karena lift dan tangga masih jauh.

Kejadian kedua terjadi saat tengah malam saya ambil wudhu. Saat membungkuk ke arah kran saya merasa ada yang lewat di belakang saya menuju urinoir. Namun seketika saya ingat, pegawai yang mana malam-malam ini masih di kantor, kecuali saya. Segera saya balikkan badan, dan ternyata zonk. Tak ada seorangpun.

Gimana menurut teman-teman ? Itu gangguan makhluk dunia laen atau hanya karena saya penakut saja ? 

Cerita 5 : Siapa Menemaniku Sampai Maghrib ? 

Sore itu lewat jam 17:00 satu persatu teman saya meninggalkan kantor. Tinggal kolega saya, Pak Dian, di kubikel sebelah yang belum pulang. Ceklik-ceklik bunyi mousenya masih terdengar. Jika beliau pulang saya pasti tahu, karena jalur pulangnya melintas di depan saya.

Menjelang Maghrib, setelah saya tuntaskan sisa-sisa pekerjaan hari itu, saya bersiap meninggalkan ruangan. Suara mouse Pak Dian masih terdengar rame. Basa-basi saya pamitan sama Pak Dian.

"Pak Dian, saya duluan yak"  Saya sedikit berteriak.

Tiba-tiba suara mouse yang semula ramai berhenti. Hening sesaat. Tak ada yang menyahut. Penasaran saya samperin kubikel Pak Dian. Hah... kosong melompong ! Kagak ada orang Guys !

Seketika saya merasa dongkol, karena merasa dipermainkan. Pengen saya bentak "Saha maneh ?", seperti adegan di film-film horor.

Tapi saya urungkan. Takut kalau ada suara tanpa rupa yang menjawab "Aing macan !". Ntar malah saya yang lari terbirit-birit. Wkwkwkwk...!

Esoknya saya ceritakan hal tersebut ke Pak Dian. Beliaupun heran, karena kemaren pulang tepat waktu, jam lima sore. 

Trus siapa yang  kemaren ceklak-ceklik mouse, nemenin saya sampai Maghrib? Au ah gelap ! 

Cerita 6 : Kami Pelupa atau Lagi Ada Yang Iseng ?

Om istri saya, suatu hari bertandang ke rumah. Selain untuk silaturahmi, sekalian mengajak kami menjenguk ART nya yang sedang mudik, ke kampung sekitar 3 km dari pertigaan Gadog, Cisarua. Sekaligus maen ke salah satu obyek wisata di sana, yaitu sungai berarus deras. Karena ada acara basah-basahan istri membawa bekal pakaian ganti.

Puas menikmati air sungai yang jernih, udara yang sejuk, pemandangan yang indah dan angin yang berhembus sepoi-sepoi, istri segera mencari tempat untuk bertukar baju.

Obyek wisata ini bukan obyek wisata mainstream. Tidak banyak orang tahu. Bahkan saat itu yang mengunjungi hanya  rombongan kami. Karena itulah belum ada fasilitas apapun, meski sekadar ruang ganti pakaian. 

Setelah beberapa saat, kami menemukan sebuah pondok agak di pinggir tengah sawah. Di belakangnya gerombolan pohon bambu yang rimbun. Lantainya semen, dindingnya tembok dan kosong melompong. Tak ada sesuatupun di dalamnya.

Sementara istri berganti baju saya berjaga di depan.  Ntah kenapa saya mencium hawa-hawa mistis. Saya merasa sedang berada di perbatasan antara dunia nyata dan dunia entah apa. Tempat saya berdiri adalah dunia nyata sementara pondok itu di alam yang berbeda.

Tiba-tiba terdengar istri memanggil dari dalam.

"Mas, baju basahnya sudah Mas ambil ?
"Saya ambil gimana, khan saya berjaga di luar"
"Tapi koq gak ada. Tadi sudah saya masukin semua ke tas kresek"

Bergegas saya ke dalam. Dan ternyata hanya ada istri saya dengan baju ganti yang sudah rapi dipakainya. Sementara baju basahnya raib entah kemana. Beberapa saat kami edarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak ada sesuatupun.

Agak gak masuk akal. Seonggok pakaian basah, dalam tas kresek, di ruangan dua kali dua meter,  diletakkan di lantai tanpa ada yang menyentuhnya, tanpa ada sesuatu yang menghalangi pandangan kami, tiba-tiba menghilang begitu saja.

Karena merasa ada sesuatu yang tidak beres saya tarik tangan istri untuk segera meninggalkan tempat itu. 

Cerita 7 : Pulung aka nDaru

Bisa jadi ini kisah supranatural saya yang paling gamblang. Tapi tidak ada serem-seremnya sama sekali. Sampai saat ini saya tidak tahu pasti benda apakah yang saya lihat saat itu.

Kejadian ini terjadi pada 2007, di Perumahan Griya Anggraini, Citeureup, Bogor, tempat saya tinggal.

Singkat cerita, suatu pagi saat Adzan Subuh bergema saya segera bersiap menuju masjid yang berjarak kurang lebih 300 meter dari rumah. Dalam keremangan malam, saya melangkah perlahan.

Kurang lebih 100 meter menjelang masjid, diantara kapling-kapling tanah yang masih kosong, entah apa yang menggerakkan, saya menoleh kebelakang. Tiba-tiba dari arah ITC Cibinong, muncul sebuah benda di langit, seperti bola api berekor, terbang perlahan. Mendatar dengan ketinggian setinggi pohon kelapa (mungkin 20 - 30 meter dari tanah).  Benda tersebut memiliki ekor berwarna biru spritus, persis api kompor gas yang masih baru, dengan kepala merah menyala.

Seketika saya menghentikan langkah dan tertegun. Otak ini berfikir keras benda apakah ini gerangan. Jika ia benda yang dilempar atau ditembakkan ke atas pasti ia akan segera turun. Jika ia sebangsa mesin kenapa seluruh tubuhnya berwujud api. Dan jika ia sebangsa pesawat, dengan kecepatan dan ketinggian segitu mestinya ia tidak akan mampu mempertahankan ketinggian dan jatuh ke tanah akibat tarikan gravitasi.

Saya hanya bisa terpaku mengikuti gerakan benda tersebut. Sekitar dua menit kemudian benda tersebut sampai di atas Perumahan Visar, perumahan sebelah di seberang sungai. Tiba-tiba benda tersebut terbagi dua, tidak sama besar, yang satu lebih besar dari satunya, kemudian masing-masing terbang dengan arah yang berlawanan. Tak lama kedua bola api tersebut meredup dan lenyap dari pandangan.

Bertanya kesana-kemari, beberapa teman menyampaikan bahwa benda tersebut adalah pulung atau nDaru. Di kampung, kemunculannya kadang-kadang dianggap sebagai isyarat akan datangnya malapetaka, misalnya pageblug (pandemi) yaitu penyakit yang menginfeksi banyak orang di suatu wilayah tertentu.Tapi kadang-kadang juga dianggap sebagai  pembawa nasib baik, misalnya pertanda seseorang akan terpilih menjadi kepala desa. 
 
Dua tahun berlalu, lalu yang terjadi terjadilah. Tanah kapling persis di tempat saya mengalami kejadian itu, Allah mampukan saya untuk membelinya. Berdua dengan teman saya, dibagi dua, tidak sama besar, yang satu lebih besar dari satunya.
 
Ah, gak usah dihubung-hubungin ya pren. Kebetulan saja itu mah.  He..he..he..

Wallaahuua'lam bishawaab.

Selasa, 14 Januari 2020

Saya Adalah Detektif Pikachu, ha..ha..ha.. !!!


Photo : Amazon.com

Dalam suatu masa saya pernah memiliki keisengan tingkat tinggi saat mencari informasi tentang seseorang. Sebetulnya itu tidak berguna sama sekali buat saya, tapi saya suka melakukannya. Walaupun beberapa diantaranya juga bermanfaat buat orang-orang yang 'mengorder' saya. Beberapa kisahnya sebagai berikut :


1. Jodoh Siapa Yang Tahu


Ini kisah saat saya bertugas di suatu ibu kota provinsi nun di luar Pulau Jawa sana, awal tahun 90-an.

Suatu hari, Mas Gareng, kakak kelas yang ditempatkan di  remote area, sejauh 5 jam perjalan darat dari tempat kerja saya, bertandang. Dengan semangat dia bercerita bahwa dalam perjalanan tadi dia duduk berdampingan dengan seorang perempuan, menarik, jomblo dan pegawai sebuah bank BUMN. Dengan antusias dan mata berbinar-binar dia bercerita banyak tentang perempuan itu.  

Mungkin teman-teman yang lain tertarik dengan isi ceritanya.  Tidak dengan saya.  Yang mencuri perhatian saya justru gestur, mimik, antusiasme, intonasi dan semangatnya dalam bercerita.Seribu satu kata terucap dari mulutnya,  sesungguhnya hanya satu pesan yang ingin ia sampaikan “Eh kira-kira kalian tahu gak, siapa sih itu anak ? Kali aja temen kalian, atau saudara temen kalian, atau malah warga komplek ini, atau whatever lah ” 

Lalu naluri saya untuk menolong sesama tiba-tiba terbit.  Sepertinya menantang ini ; mencari informasi tentang orang yang hampir anonim, cuman tahu nama panggilan saja, yang ketemu sama temen saya di perjalanan, di jaman belum kenal HP, belum kenal internet apalagi Mbah Google, dan tidak semua rumah punya telepon. Tapi paling tidak clue-nya cukup kuat : ke kota ini dia pulang kampung so dia warga kota ini !

Saya lupa bagaimana cara saya mencarinya waktu itu. Apakah modal Buku Yelow Pages, buku kumpulan nomor telepon yang legend itu. Apakah menelpon layanan info Telkom atau kombinasi keduanya. Atau digabung teknik yang lain lagi. Singkat cerita saya dapatkan alamat dan nomor telepon rumah gadis tersebut.

Esoknya Mas Gareng sudah asyik masyuk ngobrol seru dengan kenalan barunya di depan pesawat telepon.Konon pada akhirnya mereka berjodoh lho Guys. Semoga apa yang saya lakukan ini bernilai ibadah di sisi Allah SWT, karena membantu orang menemukan jodohnya. Amin YRA!


2. Kasih Tak Sampai Anak-anak Yang Berbakti


Masih di kota yang sama, ini cerita tentang kasih tak sampai. Teman sekantor saya, Petruk, semasa SMA saling demen ame anak orang, sekomplek perumahan, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah sono. Untung  tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ternyata orang tua mereka bermusuhan sejak lama. Jadilah kasih tak sampai gegara restu yang tak sampai.  Orang tuanya saling gengsi untuk besanan. Ah... jadi ikut sedih.

Tiba-tiba, Petruk suatu hari.

“Bro, mantan ane baru magang nih, di kota ini,kemaren sore tiba”
“Jauh amat magang ke sini. Kenapa gak di Jawa saja ?“
Pengen ketemu ane kali, ha..ha..ha.. ?” 
“Ah… kepedean ente, BTW dapet kabar dari mana ?”
“Dia kirim surat. Tapi dia gak mau kasih tahu tinggal di mana”
“O gitu”

FYI, demenan Si Petruk ini, yaitu Juwita, adik kelasnya satu tahun, kuliah di sebuah akademi kedinasan di Jakarta.

“Tolong dong bantuin cari info dia tinggal di mana”
“What ?”

Pekerjaan yang tidak gampang, sepertinya. Tapi melihat cara dia meminta tak tega pula awak menolaknya.Ya sudah,  set..set..sret..sret..  saya buka Buku Yelow Pages. Dengan beberapa asumsi saya susun nomine.  Coba merangkai puzzle lewat beberapa clue.  Ini catet itu catet. Ini coret, itu coret dan seterusnya.  Sampai akhirnya dapat 'tersangka' sekitar 20 nomor telepon rumah

Lanjut telepon secara acak. Apa susahnya nelpon 20 nomor.  Jika salah, tinggal ngaku salah sambung. Ya gak ?

"Halo, selamat sore, bisa bicara dengan Juwita ?“ 
"Maaf salah sambung” Krekep, telepon ditutup.No problemo. 

Lanjut...

“Halo, selamat sore, bisa bicara dengan Juwita  ?”  Krekep, tanpa dijawab telepon ditutup

Dan akhirnya, pada nomor telepon kesekian, bahkan belum sampai ke sepuluh.

“Halo, selamat sore, bisa bicara dengan Juwita ?”
“Sebentar ya, dari siapa ini ?” Suara seorang ibu-ibu di seberang sana.

JACKPOT !!!

Segera gagang telepon saya angsurkan ke Petruk. Geli-geli gimana gitu ngelihat dia akhirnya haha hihi teleponan berlama-lama hingga larut malam.

CLBK ? Sepertinya tidak. Mereka berdua anak-anak yang patuh kepada orang tua koq. Bahkan untuk urusan cinta.


3. Let This Remain a Secret


Di sebuah kota di Jawa Barat yang berhawa sueejuk. Temen saya, Antasena, jago maen bola. Posisi favoritnya gelandang serang.  Jika kantor mengadakan pertandingan dia selalu masuk line up. Baik tanding di kota sendiri atau tandang ke kota lain. 

Suatu hari, Jam 8  malam, bakda isya, sepulang  dari pertandingan persahabatan di luar kota. 

“Bro, elu tahu  **** ************ gak ?“ Tiba-tiba Antasena menyebut sebuah nama. 

"Kagak, emang siapa dia ?" Jawab saya sekenanya. Memang saya tidak tahu sama sekali nama yang dia sebut. 

“Adik kelas, tadi jadi panitia pertandingan. Tadi sempet ngobrol tapi cuman sebentar" Dia kasih clue. 

“Elu naksir ?“ Saya mulai menyelidik. 

"Kagak, pengen kenal aja“ Dia menyangkal

"Lah , khan tadi udah ngobrol, berarti udah kenalan dong ?”  Saya gak mau kalah. 

"Ya juga sih, he..he.. Maksudnya pengen kenal lebih dalam” Jawab dia sambil terkekeh. 

“ Ah, elu … muter-muter kayak tukang taksi ngakalin argo.Tunggu sampai jam 10 malam” Jawab saya belagak jagoan.

Malam-malam, dimintai tolong nyari info orang yang saya tidak kenal, yang tinggal di sebuah kota kecil 100 km dari tempat kami?  Oh Mbah Google kenapa engkau telat lahir ? Eh, boro-boro Google, bahkan HP pun belum menjadi keseharian orang. Ya iyalah, kalau sudah ada HP mereka tinggal tukeran nomor, kelar urusan. 

Hampir sejam saya ngoprek alamat di kota tempat ia tinggal. Pake tool apa Bro ? Pengen tahu aja ! Atau pengen tahu bingitz ? Hasilnya ? Nihil !  Jangan-jangan ia tinggal di Platform 9 ¾ yang hanya bisa ditembus oleh Harry Potter ? Janji menemukan jam 10 akhirnya gagal total. 

Besoknya strategi diubah. Gagal mengoprek lokasi kota tinggalnya, kita coba oprek kampung halamannya. Tarrraaa …. tidak pake lama, saya dapatkan alamat rumah dan nomor teleponnya.

“Halo, Selamat Malam, bisa bicara dengan Melati” Padahal saya tahu Melati sedang tidak di rumah, he..he... 

"Ini siapa ya?” terdengara suara seorang ibu sepuh.

“Saya teman kuliahnya,  Bu”  Jawab saya, saya manis-maniskan.

“Oh, Melatinya tidak di rumah Mas.  Sudah 6 bulan dia penempatan di kota anu“ 

"Boleh tahu alamatnya Bu ?“ 

"Saya kasih no telponnya saja ya”

Alhamdulillaah, fajar mulai menyingsing. Segera saya hubungi nomor yang dikasih ibu tadi. 

“Halo, Selamat Malam, bisa bicara dengan Melati“

"Dari siapa ya?” suara ibu-ibu terdengar merdu. Pasti ibu kostnya.

“Dari temannya Bu”

“Tutup dulu ya, ntar telepon lagi. Saya panggilin dulu. Kostannya agak jauh. Di sebrang jalan. Sekitar 10 menit jalan kaki”

“ Baik Bu, terima kasih”

Pantes gak kesentuh oprekan saya. Ternyata dia tinggal di sudut dunia yang terisolir dari peradaban. Saya ulurkan gagang telpon ke Antasena yang wajahnya berbinar-binar sambil mengacungkan dua jempolnya ke saya. Alhasil malam itu cukup lama dia ngobrol dengan Melati, dengan segala kecanggungannya. 

Sejak kejadian itu Antasena memanggil saya dengan sebutan ‘Agen’, sampai sekarang, merujuk pada sebutan untuk pelaku spionase. Jika di suatu kerumunan tiba-tiba ada yang berteriak ke arah saya 'Gen !', tanpa melihatpun saya sudah tahu itu Antasena. Hanya dia yang memanggil saya demikian.

Akhir ceritanya ? In the end they just become friends.  

Qadarullah, di kemudian hari saya berada di kantor yang sama dengan Melati dan menjadi mitra dalam pekerjaan. Bahkan saat ini sering ketemu, baik dalam rapat, dalam kegiatan kantor lainnya atau just say hello saat ketemu di lift, tanpa ia tahu bahwa pada jaman ‘purbakala’ dulu saya pernah melacaknya, demi teman saya.  But, let this remain a secret, toh gak penting juga ia tahu.


4. Wish You All The Best, Mawar


Ini cerita saat internet telah menjadi keseharian orang dan data digital dengan mudahnya bisa kita tambang. Asyiiik !!

Suatu hari iseng-iseng saya buka akun medsos saya yang sudah berlumut.  Eh ternyata ada DM dari temen lama, Mawar. Ya sudah saya balas just say hello saja plus basa-basi sedikit.

Tiba-tiba naluri Pikachu saya muncul. Jari-jemari ini mulai gatal untuk mencari  informasi tentangnya.  Bertapa sebentar, baca mantra, daaaaan ……….berubah jadi kuciiing. Meeeooong ! Enaknya jadi kucing, bisa masuk rumah orang lewat pintu dapur. Siapa tahu dapat ikan asin nganggur yang lupa ditutup sama pemiliknya. 

Dalam sekejap terkumpul seonggok info didepan mata ; namanya Anu, seorang ayah baik hati, suka menolong dan rajin menabung he..he.., status perkawinannya, dua anaknya mulai beranjak dewasa, nama saudaranya, kota asal, pekerjaan, nama kantor, hobi, akun medsosnya dan info lainnya baik yang penting maupun yang remeh temeh. Oh ternyata mereka kenal di perjalanan antar kota antar provinsi dari kota anu ke kota anu, pada tanggal sekian, saat menghadiri pernikahan teman kerja Mawar  yaitu si Anu, yang menikah dengan Anu, asal kota Anu, yang bekerja di  perusahaan Anu, dan seterusnya. 

Beberapa waktu mobilitas dan aktifitas Mawar terpantau oleh saya. Tidak ada yang aneh. Rumah, kantor, mall, dan tempat wisata di akhir minggu. Semua normal.  

Saatnya test the water ! 

“Eh Mawar, elu kenal gak sama Si Anu ? “ Tanya saya memancing.

“Tahu dari mana lu ? Jangan sebut-sebut nama itu dong. Please ya, please!”  Tiba-tiba dia nyolot, lalu dalam sekejap menghiba-hiba.   

Ha..ha..ha. Nah khan, mangkanya kalau masih takut terbakar, jangan maen api ! 
Sebagai teman, sebetulnya saya pengen banget nasehatin dia  “Elu jangan jadi PLKR dong, kagak baek, kasihan rumah tangga orang !”.Tapi saya  gak mau membuat kesimpulan terlalu dini.  Ntar jatuhnya su’udzon. Ya gak Pren ?

Ada ribuan  teman. Kita bebas memilih mana yang kita ingin staying in touch  atau saying good bye.  Dan untuk yang ini, saatnya untuk saling mendoakan yang baik-baik saja lah.  Wish you all the best ya Mawar. Tanpa saya, teman kamu juga sudah banyak khan ? Dalam sekejap dia saya unfriend. Bye Bye !

Selasa, 14 November 2017

Homo Homini Lupus


Photo : www.faunadanflora.com

Pernah dengar istilah di atas ? Homo homini lupus, istilah yang dikenalkan oleh Thomas Hobbes itu, bermakna manusia adalah serigala bagi manusia yang lain.

Mungkin sering kita dengar kelakar demikian ; orang susah bilang nanti makan apa, sedikit kaya bilang makan dimana, begitu kaya dan berkuasa bilang nanti makan siapa. Nah orang yang berpikiran nanti makan siapa inilah manusia penghayat istilah di atas.

Suatu hari di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Saya duduk termangu menunggu Kereta Api Senja Utama yang akan mengantarku ke Klaten.

Jarum jam telah menunjukkan lewat pukul enam sore. Suasana sangat sibuk. Beribu-ribu orang lalu lalang tergesa. Dari air muka letihnya, bisa dipastikan mereka adalah para pekerja pulang kantor. Terburu ingin segera sampai di rumah menemui orang-orang tercinta.

Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada seorang bapak tua.  Maaf, dengan jelas terlihat beliau tidak bisa melihat. Tongkat di tangan kanan membantunya meraba arah jalan. Wajahnya kuyu, bajunya lusuh. Di bahu kiri tergantung tas kresek, membulat agak besar, entah apa isinya. Meskipun demikian tak terlihat dia asing dengan situasi sekitar. Mungkin stasiun ini selalu disinggahinya setiap hari.

Tiba-tiba seorang pengasong koran datang menghampirinya.  


"Mau kemana, Beh !" Ujarnya tanpa basa-basi. 

"Bekasi" Bapak tua menjawab singkat

"Udah tunggu aja dulu di sini, kereta masih lama" Kata pengasong sambil menarik tangan bapak tua dan mendudukkannya di kursi tunggu.

Tidak lama berselang kereta jurusan Bekasi tiba. Hiruk pikuk orang berebut menaikinya. 


Si pengasong sigap menuntun bapak tua. "Barangnya biar aku bawain" 

Bapak tua menyerahkan seluruh bawaanya. Sampai di depan pintu kereta pengasong menahan bapak tua agar jangan dulu masuk.  

"Masih banyak orang" Katanya. 

Aneh. Padahal hampir semua orang sudah masuk kereta. Tinggal satu dua. Tidak ada alasan untuk menahan bapak itu.

Terdengar derit roda bergesekan dengan rel. Sambungan berderak, gerbong bergoyang tanda kereta segera berangkat. 


Pengasong mendorong bapak tua ke dalam gerbong sambil memerintahkan "Masuk Beh, kereta mau berangkat". 

Tubuh renta itu terdorong ke dalam, tepat saat kereta mulai melaju. Dalam sekejap ular besi itu hilang dari pandangan.

Pengasong bergegas menuju pojokan. Dengan bernafsu ia tumpahkan tas kresek itu. Isinya berserakan. Tidak jelas apa. Beberapa diantaranya berpindah ke dalam kantongnya. Sisanya ia tendang ke tempat sampah.

Ternyata, untuk menjadi pemangsa bagi sesamanya, orang tidak selalu harus kaya dan berkuasa terlebih dahulu. Kaya,miskin, lemah, kuat sami mawon. Yang membedakan hanya motivasinya ; kavling kekuasaan, akses politik, portofolio korporasi atau (sekedar) recehan hasil mengemis seharian pengemis renta tuna netra.

Duh, dadaku berdesir....

Rabu, 08 Januari 2014

Hariku Yang Lucu



Photo : imgbin.com

Kamis pagi, 9 Januari 2014 di loby sebuah hotel. "Taksi mas' Ucap saya ke salah seorang petugas front liner. Sejenak ia bicara via HT.

Tak menunggu lama sebuah taksi tiba. Taksi opo iki Rek ? Belum pernah saya lihat taksi merek beginian. Bukan Expr*ss, Putr*, K*sti, Cip*g*nti, C*l*brity, Prim*j*s*, T*x*ku atau merek yang familiar lainnya.

Seumur-umur order taksi di hotel ini yang datang selalu taksi biru. Tapi tidak kali ini.

Bismillaah. Saya masuk.

Wew, Pak sopirnya sudah sepuh. Simbah-simbah. Bicaranya sudah agak groyok. Pake sandal jepit doang. Pas ia ngobrol dengan petugas frontliner, hujan rintik-rintik dari mulutnya :-D

'Kemana Pak ?' Tanyanya. 'Lapangan Banteng' Jawab saya.

Ok, berangkat !

Sekitar 10 menit perjalanan, taksi berhenti. 'Ada apa Pak' Tanya saya. 'Ini kakiku kayak kesetrum' Jawabnya sembari membetulkan beberapa kabel yang berjuntai-juntai, sambil mengelus-elus kaki kanannya.

Taksi jalan kembali.

Kira-kira 100 m sesudah keluar pintu gerbang Ancol, ia berhenti lagi.'Bentar ya Pak, ditahan dari tadi akhirnya gak tahan juga' Katanya. 'Apa yang ditahan Pak' Tanya saya. Ia tak menjawab, tapi langsung ngeloyor keluar.

Oo saya tahu. Saya berpikir ia akan numpang di toilet dekat sini, atau turun ke selokan, atau sembunyi di balik pohon.

Tetapi ?!

OMG, di tengah lalu lalang orang di jalanan itu ia dengan cuek mepet di belakang taksi, dan 'kran air' pun dibuka. Seeerr ! Duh, Mbaaah ...! Saya yang duduk di dalam merasa seakan-akan punggung saya ikut tersiram sesuatu. Ha..ha..ha..

Urusan selesai, Simbah masuk taksi. Tiada acara cuci-cuci. Cuci tangan atau cuci yang lain. Pokoke praktis dah.

Tarik Maaang !

'Gunung Sahari macet Pak, lewat tol aja, ntar keluarnya Cempaka Putih' Ia menawarkan. Saya setuju aja, karena saya tahu, jalur normal, Jl. Gunung Sahari jam segitu memang macet berat. Muter dikit gak papa. Eh, muter banyak ding !

Bayar tol…. Saya ulurkan 10 ribu. Dia angsurkan kembalian 2 ribu. Pas saya terima itu uang, baru kepikir, tadi di belakang taksi tangannya pegang apa ya, trus sekarang buat pegang duit, trus sekarang duitnya saya pegang. Hii.......

Huaaa..haa..haa..haa......

Keluar Cempaka Putih jalan mulai tersendat. Tiba-tiba ia mengeluarkan 'senjata rahasia' dari laci dashboardnya; minyak kayu putih cap K*p*k. Ia balurkan itu minyak ke tubuhnya. Dada, punggung, leher, tengkuk.... Walhasil ruang taksi yang memang sudah tanpa pewangi itu, bagaikan tenda pengungsi Suriah yang di bom senjata kimia rezim Bashar Al Assad. Breng …!

Sampai di Galur, Simbah ngajak ngobrol lagi. 'Nanem pohon di jalan gini gak ada gunanya Pak, ntar gede dikit bingung nebangnya' Ia berlagak aktivis lingkungan hidup, sambil menunjuk pohon baru tanam di sisi jalan layang Galur.

'Kenapa gak sekalian ditanem pohon kelapa saja ya, he..he..he..' Lanjutnya sambil cengengesan.

'Kalau pohon kelapa, kalau pas Simbah lewat kelapanya jatuh trus kena gundul Simbah, trus gundulnya Simbah benjol siapa yang tanggung jawab ?' Kata saya. Tapi tentu saja hanya di dalam hati.

Ana-ana bae Simbah iki. Ada rasa dongkol, juga lucu melihat kekonyolannya.

Singkat kata, sampailah taksi di kantor. Argo menunjukkan angka dua kali lipatnya argo taksi kemaren sore, waktu saya berangkat dari kantor ke Ancol. Padahal yang kemaren taksi tarif atas.

Yo wis ra popo !

Doa saya semoga Mbah Sopir sehat wal afiat agar dapat terus bekerja. Rejekinya lancar dan berkah. Anak dan cucu berbakti semua. Amien !

Naik taksimu lagi Mbah ? Emoh ....., kecuali dalam situasi darurat amat sangat terpaksa dan tak ada pilihan lain.

Tapi ngomong-ngomong kalau Simbah tahu konsep service excellence mungkin penumpang akan lebih enjoy dan ada peluang repeat order kali ya.

Goodbye Mbah, wish you all the best !