Selasa, 18 Januari 2011

Pertanyaan Orang Awam tentang Antibiotik

Photo : epthinktank.eu


‘Yang ini diminum sampai habis ya Pak’. Demikian selalu dikatakan oleh dokter atau pegawai apotek seraya menunjuk salah satu kemasan s‘Hmm...ini pasti antibiotik’, batin saya. Sepanjang ingatan saya setiap saya atau keluarga berobat selalu ada antibiotik dalam resep yang kami terima.
aat saya menerima paket obat dari mereka.

Demikianlah adanya, antibiotik harus dihabiskan. Konon, jika tidak dihabiskan hanya akan membuat kuman resisten atawa kebal. Jika itu yang terjadi maka Si Sakit akan butuh antibiotik yang lebih sakti lagi. Begitu seterusnya.

Ada yang mengganjal di hati ini. Logika bahwa antibiotik habis=kuman mati belum sepenuhnya saya terima.

Kalau tujuan akhirnya menewaskan kuman kenapa pesannya tidak ‘Yang ini diminum sampai kumannya mati ya Pak’. Jika perlu ditambahi ‘Jika kumannya belum mati juga silahkan ke sini lagi biar kami tambahi dosisnya’

Mungkin kita spontan berkata ‘Bagaimana orang awam seperti kita bisa mengetahui kumannya sudah mati atau tidak’.

Ok, kalau demikian lalu kita akan bicara masalah pendosisan. Jika rumusnya adalah habis=kuman mati, asumsinya dokter tahu betul berapa dosis untuk masing-masing pasien untuk tiap jenis kuman untuk tiap jenis penyakit. Sehingga saat memutuskan dosis dokter punya keyakinan penuh jika antibiotik dihabiskan maka kuman mati ceteris paribus. Karena apalah gunanya dihabiskan kalau dosisnya kurang dari yang seharusnya. Itu sama saja dengan dosisnya cukup tapi tidak dihabiskan, bukan ?

Lalu saya berburu tahu. Pernah saya tanyakan ke seorang dokter pengasuh sebuah blog, bagaimana sih dosis antibiotik ditentukan ? Dia menjawab bahwa dosis antibiotik ditentukan berdasarkan berat badan pasien. Saya pegang jawaban itu hingga suatu kali saya berobat ke dokter dan rekaman ‘Yang ini diminum sampai habis ya Pak’ diperdengarkan lagi. Saya ingat-ingat, dan yakin betul dari sejak pendaftaran hingga menebus obat tak sekalipun saya diminta menimbang badan atau ditanya dokter perihal berat badan. Apakah pengasuh blog itu yang tidak menjawab yang sebenarnya ataukah dokter itu yang tidak menjalankan SOP dalam menegakkan diagnosa, atau hanya dengan melihat penampakan saya dokter itu bisa menebak berat badan saya ? Entahlah.

Ada dikatakan bahwa kuman dapat kebal terhadap antibiotik. Untuk mengatasinya pasien butuh antibiotik yang lebih sakti lagi. Jika demikian adanya lalu kenapa saat dokter memberikan resep antibiotik tidak dulu diyakinkan bahwa kumannya tidak kebal dengan antibiotik yang akan diberikan ? Jika yang terjadi sebaliknya bukankah hanya sia-sia belaka yang kita dapat meskipun itu antibiotik kita habiskan ?

Tulisan di atas jika dibaca oleh orang yang tahu duduk permasalahannya sangat mungkin ada banyak kelucuan, keluguan, atau kerancuan baik dalam substansi maupun pemakaian istilah. Semua itu –pastinya- akibat ketidaktahuan saya. Tak mengapa. Itulah faktanya : saya awam dalam hal ini plus sedikit paranoid akan kesehatan. Justru karena itulah tulisan ini saya buat.

Juga ada sedikit prasangka bahwa ada kesembronoan di dunia kedokteran dalam pemberian antibiotik kepada pasien. Semoga prasangka saya salah.

Anda tahu jawaban atas hal-hal di atas ? Ditunggu komentarnya. Khususnya para dokter, apoteker, ahli farmasi nyuwun pencerahannya nggih.



Sabtu, 01 Januari 2011

Naik KRL Bersama Orang-Orang Hebat Indonesia


Photo : express.co.uk

Senin 26 Oktober 2009 saya mendapat undangan ‘konser’ dari teman-teman Subdit Setelmen Transaksi di Wisma Anggraini, Puncak. Konser adalah bahasa slank untuk konsinyering, yang arti gampangnya adalah rapat di luar kantor.

Sesudah malam yang produktif itu, pagi-pagi, sehabis Subuh saya segera berkemas. ‘Pulang kapan Man ?’ Tanyaku ke Iman, teman sekamar, dengan nada menawarkan untuk pulang bersama. ‘Aku agak siangan, Mas. Bareng rombongan aja’ Sahutnya, sambil mengibaskan selimut, bergegas hendak melanjutkan boboknya. No problemo, Man. Tapi saya harus sampai kantor sepagi yang saya bisa. Hari ini, tiga kolegaku off. Satu cuti haji, satu pulang kampung menghadiri pemakaman neneknya, satu lagi tidak aktif. Jika saya tidak ngantor, karena status saya sedang tugas luar, bisa kacau dunia. (sok penting mode on).

Dari Cisarua, setelah ganti angkot dua kali sampailah saya di Stasiun Bogor. Untuk menuju Jakarta ada beberapa pilihan. Kereta Pakuan Express, Ekonomi AC, serta Ekonomi Biasa. Pilih yang mana ? Lempar koin ! Gambar berarti naik Ekonomi Biasa. Angka berarti naik Pakuan Ekpress. (Jangan percaya ini hanya dramatisasi saja he..he..). Pilah-pilih, timbang-timbang naik Ekonomi Biasa saja, secara saya termasuk kasta sudra ini….. Ongkosnya murah. Cuman dua ribu perak. Perjalanan sejauh itu hanya seharga dua kali pipis di toilet umum.

‘Yang ke Kota mana Bang ?’ tanyaku ke tukang koran, takut salah naik. 'Ini nih' Jawabnya sambil menunjuk kereta di hadapanku. Tidak ada lagi tempat duduk tersisa. Jadilah saya berdiri dekat pintu sambil berpegang pada besi ram pelindung blower yang sudah tidak lagi berfungsi. ‘Ini ke kota ya Bang ?’ Tanyaku ke penumpang sebelah, untuk lebih meyakinkan. ‘Gak tahu saya’. Lho piye tho ? Ya sudah saya yakin-yakinkan diri bahwa saya tidak salah naik. Tak berapa lama kereta berangkat. Duh, dari stasiun pertama saja sudah demikian padat.

Saya tidak hapal urut-urutan stasiun sejak Bogor hingga Kota ; Bojong Gede, Cilebut, Citayam, trus ….? Baru stasiun ketiga, menurut ukuran normal, gerbong sudah tidak mampu lagi dimuati lebih banyak penumpang. Namun demikian orang-orang itu dengan gigih tetap berusaha merangsek ke dalam laksana serbuan Banzai tentara bayonet Dai Nipon dalam Pertempuran Saipan di Kepulauan Marianna Pasifik. Semua calon penumpang di stasiun seakan-akan pelari sprint menunggu aba-aba wasit. Semua dalam posisi ‘bersedia’ saat kereta nampak di kejauhan. Derit rem kereta adalah aba-aba ‘siap’. Hentakan kereta berhenti adalah bunyi ‘prit’ peluit. Semua berebut. Lady first ? Semua lady ! Semua first !

Stasiun demi stasiun. Gelombang demi gelombang manusia. Turun satu naik seribu. Tidak ada lagi sisa ruang untuk sekadar menggeser kaki. Berani mengangkat kaki, siap-siap tidak dapat ruang menapak kembali. Saat masinis mengerem, penumpang terlempar ke depan. Tergencet. Pegangan terlepas. Saat kereta berangkat penumpang terlempar ke belakang. Tergencet lagi. Pegangan terlepas lagi. Sejauh ini tidak terdengar keluh-kesah. Yang ada justru celotehan. ‘Masinisnya becanda nih’ Terdengar gurauan. Saat himpitan makin tak tertahankan, mulai terdengar ‘Aduh-aduh, jangan dorong-dorong dong Pak’ Seru ibu-ibu di dekat tangga. ‘Naik kereta dua ribu perak ini, jangan pake marah dong’ Sahut Si Bapak galak. Orang-orang hanya tersenyum. Lebih banyak lagi tak peduli. Namun tidak ada amarah.

Di stasiun yang ke sekian kereta berhenti. Agak lama. Saya hampir tidak tahan. Saya belum sarapan. Saya merasa diri ini tinggal kepala. Leher ke bawah entah kemana. Mati rasa. Tenggelam dalam lautan peluh. Penumpang-penumpang adalah kepala-kepala yang thingak-thinguk kiri-kanan berebut oksigen. Berhenti berarti pertukaran udara di gerbong juga berhenti. CO2 yang dihembus penumpang sebelah saya hirup. CO2 yang saya hembus dihirup penumpang sebelah lagi. Demikian seterusnya. Rupanya kereta kaum proletar ini sedang menunggu kereta kaum borjuis, Pakuan Ekpress yang hendak mendahului.

‘Kemaren ada copet dipukuli sampai babak-belur‘ Seorang bapak membuka pembicaraan. ‘Kalau dia bukan copet beneran, gimana coba ? Kasihan khan !’

‘Ah, biarin aja. Ngapain kasihan. Rumusnya memang pukulin dulu, siapa tahu dia copet beneran’ Timpal rekannya. Ternyata komunitas komuter ini punya logika berpikirnya sendiri.

Kereta Pakuan Ekpress lewat. Lampunya menyala terang. ACnya berhembus sejuk sepoi-sepoi. Penumpang duduk aman sentosa di dalamnya. Kereta apiku seakan menunduk takzim, mempersilahkan tuannya mendahului.

‘Menteri-menteri baru itu, belum-belum sudah mau naik gaji. Termasuk menhub. Benerin dulu dong KRL. Ini sudah tidak manusiawi’ Seorang lelaki, tepat di hadapanku, dengan logat swarnadwipa tiba-tiba berpidato. Orang-orang tak mengacuhkannya. Tak mengapa. Anggap saja itu sebagai katalis atas kesuntukan hidupnya selama ini. ‘Sekali kali menteri-menteri, anggota DPR atau presiden sekalian, suruh rasain naik KRL. Biar mereka tahu keadaan rakyatnya, bla..bla..bla..Gara-gara penuh sesak begini, kasihan tuh mahasiswi-mahasiswi gak berani naik' Kutuknya dengan nada kesal sambil mengarahkan pandangan ke wajah-wajah bening yang bergerombol di plasa stasiun. He..he.. koq ujung-ujungnya mahasiswi. Yang gak berani naik gak cuman mereka, Om. Tuh, Mbok-mbok jamu gendong dan Kang Sudar kuli gali tanah juga manyun di stasiun menunggu kereta berikutnya.

Sudah sampai mana, Bang ?’ Tanyaku kepada seorang anak muda.
‘Cikini’ Jawabnya.
‘Juanda ?’
‘Oh, sebentar lagi. Habis Gambir’

Saat stasiun warna orange itu di depan mata, saya bersiap turun. Ternyata saya yang semula berdiri di depan pintu, terdorong cukup jauh ke dalam. Sekian langkah baru saya capai pintu keluar.

Dalam perjalanan menuruni tangga.

’Emang biasanya begini ya Pak ?’ Tanya saya kepada bapak paruh baya sambil berjalan beriring.
‘Ini tadi kita dapat diskon 50%, maksudnya biasanya dua rangkaian delapan gerbong, tadi cuman satu rangkaian empat gerbong’ Jawabnya. ‘Tapi gak beda jauh deh meskipun dua rangkaian juga, teteup, empet-empetan’ Imbuhnya.

Kutengok atap kereta. Penuh orang-orang duduk santai. ‘Ah andai saya tadi naik ke situ, tentu tak perlu saya tahankan semua ‘penderitaan’ ini’ Rutukku. Apakah Anda pernah berpikir bahwa naik di atap kereta adalah perbuatan bodoh, tidak berpendidikan dan membahayakan diri sendiri ? Cobain dulu deh naik KRL Ekonomi Biasa, baru komentar. Anda juga baru akan tahu kenapa segala daya upaya– menyemprot dengan pewarna, menanam besi lancip atau mengolesi atap dengan oli - tidak pernah berhasil mencegah hal itu.

Perjalanan ini memakan waktu hampir dua jam. Selain badan remuk redam, tampilan saya, tentu saja acak adut tak karuan. Benar keputusan saya untuk pakai polo shirt saja. Sementara pakaian kerja saya simpan rapi dalam back pack. Tangan, wajah, rambut, kaos, celana hampir-hampir seperti habis diguyur hujan. Semua kuyup oleh keringat. Mampir toilet dulu ah ! Basuh-basuh, ganti baju, trus menuju ke kantor yang tidak seberapa jauh dari situ.

Kawan, apakah saya terlihat cengeng ketika menceritakan semua ini ? Seakan-akan ini adalah peristiwa istimewa hebat tak terlupakan, momen historis yang perlu dikenang sepanjang masa, yang karena sebegitu pentingnya hingga saya merasa perlu menuliskannya dalam blog ini ? Sementara ibu-ibu itu, bapak-bapak itu mengalaminya setiap hari, menjalaninya sebagai rutinitas dan menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tak berlebihankah jika saya menyebut mereka orang-orang hebat, yang atas nama tanggung jawab mencari nafkah untuk keluarga, setiap hari, ya setiap hari, bertahun-tahun, rela berpeluh, berdesakan, berjibaku, pagi berangkat kerja bertumpuk-tumpuk kaya ikan pindang, sore  pulang kerja 
berdempet-dempet kaya bandeng presto demi orang-orang yang dicintainya ?

Ada Apa dengan Toko Emas ?



        
Photo : Jewelsbox.co


            Cerita ini berasal dari kisah nyata seorang pembeli emas perhiasan di sebuah toko emas di sebuah pusat perbelanjaan, jika dari arah pintu tol Cibinong (Jagorawi), sebelah kiri, tidak seberapa jauh sebelum Pasar Cibinong. Sebut saja ia Investor Emas (IE) dan tokonya Toko Emas (TE). 

          Secara garis besar kisahnya adalah kekesalannya atas penentuan harga emas perhiasannya, yang ia nilai sepihak dan tidak masuk akal, saat ia hendak menjualnya kembali ke toko emas langganannya, setelah ia simpan bebeberapa lama. Namun anehnya saat ia menjual emas yang lain yang ia beli di sebuah kota nun di sebuah kota di Sumatera sana, hal serupa tidak terjadi.
IE : Berani beli berapa emas saya, Koh (22 karat, berat sekian gram) ?
TE : Rp. 170 ribu/gram Bos
IE : Walah, murah sekali Koh. Gimana tuh ngitungnya ? Harga emas 22 karat hari ini saja sudah Rp. 250 ribu per gramnya. Masak selisih harag jual dan beli 28% ? Yang bener aja Bro. 
IE sempat survey dulu, dengan berpura-pura mau beli emas, di toko itu sebelumnya, jadi dia tahu persis harga hari itu.
TE : Itu harga belum ditawar Bos, apalagi Bos khan dulu belinya cuman Rp. 140 ribu per gramnya. Tuh ada di suratnya.
IE : Lho apa hubungannya dulu saya beli berapa dengan sekarang dibeli berapa. Mestinya lu hargai emas saya sesuai harga hari ini. Kalau memang dikurangi biaya bikin, silahkan. tapi ya gak sampai 28% lah. Enak aja. 
TE : Hitungannya emang gitu Bos. Toh Bos sudah untung khan ? Dulu beli Rp. 140 ribu/gram sekarang dibeli Rp. 170 ribu/gram ? Masih untung make lagi.
IE : Sok tahu lu untung make. Orang gelang ini nyaris gak pernah dipake.
TE : Udahlah Bos. Bos udah untung banyak nih. Baru pegang setahun udah untung sekian.
IE : Bukan begitu Koh. Hari ini aku juga bawa perhiasan yang lain. Di sebelah berani beli Rp. 224 ribu/gram dikurangi biaya bikin. Pertanyaannya : sama-sama emas 22 karat, sama-sama dijual hari ini kenapa harganya berbeda jauh hanya karena lihat di suratnya dulu belinya dengan harga berbeda.
IE kebetulan juga menjual perhiasannya yang lain di toko sebelah. Karena dulu beli Rp. 224 ribu/gram, maka toko tersebut menawarkan harga yang sama, Rp. 224 ribu/gram dikurangi ongkos bikin. IE memutuskan untuk batal melepas barangnya karena rugi. Ia akan menyimpannya dan menjualnya lagi suatu saat.

TE : Emang begitu Bos. Harus dilihat, dulu belinya berapa baru dihitung harganya.
IE : Gak masuk akal Koh. Trus kalo ada orang dateng ke sini mo jual emas jaman Majapahit ia dapat nemu dari kebun gimana ngitungnya. Pan lu gak bisa lihat harga belinya, orang dia dapat dari nemu.
TE : [TERDIAM AGAK LAMA, kemudian]Tapi Bos udah untung banyak lho. Bandingin sama HP. HP Bos yang dapet beli setahun lalu dijual hari ini sudah turun banyak harganya. Bahkan mungkin gak laku.
IE : Yaaah, makin lucu aja lu, Koh. Masa emas dibandingin ma HP. HP tahun 90an dijual sekarang gak ada yang mau beli. Tapi, jangankan emas tahun 90an, emas jaman Fir’aun pun laku dijual hari ini.
TE : [TERDIAM AGAK LAMA]
IE : Udahlah Koh. Saya minta harga gak tinggi-tinggi amat koq. Taruhlah harga jadi hari ini Rp. 240 ribu/per gram. Saya minta harga itu dikurangi biaya bikin 15 ribu/gram jadi Rp. 225 ribu per/gram. Gimana ?
TE : Wah berat Bos. Gak mungkin di atas Rp. 200 ribu/gram
Berkali-kali TE mesti nelpon bosnya (yang sedang tidak ditempat) menghadapi pelanggan ngeyel ini. Setelah ‘berkelahi’ selama hampir satu jam, hanya untuk menjual dua gelang dan satu cincin, akhirnya IE mendapat harga mendekati Rp. 200 ribu/gram. Rupanya TE lelah juga menghadapi pelanggan yang mau ‘bertempur’ seperti itu.

Sebulan kemudian saat Lebaran, IE pulang ke Dumai. Tak lupa ia bawa beberapa perhiasan yang ia beli di sana. Akan ia lego pula itu asset. Hah..!, ternyata guampang buaaanget jualnya. Gak perlu ‘berantem’, apalagi sampai sejam.
IE :Harga emas 22 karat hari ini berapa Da ? (Uda adalah panggilan setara Bang bagi laki-laki Sumatera Barat)’.
UDA :Rp. 235 ribu Om.
IE : Aku mau jual, berani beli berapa ?
UDA :Harga hari ini dikurangi biaya bikin 25 ribu. Jadi Rp. 210 ribu per gram
IE :Biaya bikin jangan banyak-banyak. Rp. 20 ribu aja ya. Jadi per gramnya Rp. 215 ribu.
UDA :Ok. Ini sekian gram jadi totalnya sekian-sekian.
IE serahkan barangnya. Si Uda serahkan duitnya. Beres ! Padahal perhiasan itu bukan dibeli di toko Si Uda, tapi toko sebelahnya yang masih tutup karena libur lebaran. Kebetulan ia juga dititipi perhiasan lain milik adik iparnya untuk dijual, setelah ia simpan selama empat tahun. Ternyata toko emas berani beli hampir dua kali lipat dari harga yang tertera di surat. Itu artinya nilai perhiasan tersebut tumbuh 100% selama empat tahun alias 25% per tahun. Jauh di atas rata-rata bunga deposito.

IE memang investor emas hardcore. Ia tahu betul ia tidak (belum) lihai terjun di dunia investasi sektor riil. Tapi ia juga gak mau didzalimi perbankan yang hanya memberikan hasil atas tabungannya sebesar 1-2 % per tahun dikurangi biaya administrasi dan pajak itu.

"Dengan hasil segitu sama saja saya bunuh diri di tiang gantungan inflasi" cetusnya. 

Yup, dengan tingkat inflasi VERSI RESMI yang rata-rata 11 % itu, kenaikan tabungannya tidak mampu mengejar kenaikan harga-harga. Kalau VERSI RIIL bahkan Anda sendiri bisa mengira-ira sendiri. Dalam setahun ini, beras yang anda beli, cabe, gula, minyak, susu, kontrakan rumah, harga mobil, motor adakah yang hanya naik 11 % ? Rasanya lebih dari itu !

Untuk itu ia melindungi nilai (value protection) assetnya dengan menyimpannya dalam bentuk emas. Sejauh ini dalam setahun tingkat kenaikan harganya selalu di atas tingkat inflasi. Akan lebih besar lagi kalau ia mau berlaku sebagai spekulan. Tapi ia tidak lakukan itu.

Pengalaman ‘pahit’ berantem dengan toko emas itu membuatnya ambil keputusan tidak akan lagi membeli perhiasan, kecuali sekadar yang cukup untuk dipakai istrinya. Atau kalaupun mesti beli perhiasan ia tidak akan pergi ke toko emas itu. Selain itu ia sudah punya pilihan lain. Beli logam mulia (gold bar) di PT. Logam Mulia atau koin emas dalam bentuk dinar di Gerai Dinar. Setiap hari harga beli dan jual di-declare. Jadi jelas.

Sejauh ini ia lebih memilih membeli dinar di Gerai Dinar.‘Gampang ngitung zakatnya’ kilahnya. Yups, tiap 40 keping dinar yang telah disimpan selama setahun ia sisihkan 1 keping (2,5%) untuk diserahkan ke lembaga zakat sebagai zakat mal. Praktis ! Memang ada plus minusnya gold bar versus dinar, jika dilihat dari aspek perpajakan, tingkat ke-likuid-an, kemudahan untuk dibagi, dsb. Tapi ia sudah memutuskan.

Sidang pembaca yang budiman, adakah yang juga memiliki kisah serupa, saat menghadapi toko emas yang ‘reseh’. Atau jika Anda pemilik toko emas, sebetulnya gimana sih mestinya Anda ngitung harga saat seseorang mau jual perhiasannya. Apakah seperti Si Koh, apa seperti Si Uda ?


Rabu, 03 November 2010

Hakekat Nilai dari Ilmu, Pesan Albert Einstein kepada Mahasiswa Carolina Institute of Technologi (1938)



Photo : https://www.space.com


Bagi yang pernah belajar Ilmu Pengetahuan Alam, atau Fisika hampir tidak mungkin tidak mengenal orang yang satu ini. Albert Einstein ! Fisikawan teoretis yang lahir pada 14 Maret 1879 dan meninggal 18 April 1955 pada umur 76 tahun ini, hampir-hampir menjelma menjadi manusia setengah dewa bagi para pengagumnya. Einstein, relativitas, E=MC2, bom atom adalah empat serangkai yang tidak bisa dipisahkan bagi penggemar awam tokoh ini. Kenapa penggemar awam ? Karena sosok Einstein jauh lebih komplek dan komprehensif dari sekadar empat hal tersebut. Salah satunya adalah sisi manusiawinya. Dikisahkan bahwa Einstein stress berat dan marah besar kepada Presiden Harry S. Truman saat mengetahui formula racikannya yang menghasilkan bom atom digunakan untuk membumihanguskan Hiroshima dan Nagasaki.

Berikut ini adalah pidato Einstein yang mewakili sisi manusiawi ilmuwan terkenal tersebut, yang disampaikan kepada mahasiswa Carolina Institute of Technologi pada tahun 1938. Isi dari pidato tersebut kurang lebihnya adalah agar sejauh-jauh seorang ilmuwan melakukan riset maka pijakannya haruslah demi kemaslahatan kehidupan itu sendiri.

Rekan-rekan yang Muda Belia,
Saya merasa sangat bahagia melihat Anda semua di hadapan saya, sekumpulan orang muda yang sedang mekar yang telah memilih bidang keilmuan sebagai profesi.

Saya berhasrat untuk menyanyikan hymne yang penuh puji, dengan refrain kemajuan pesat di bidang keilmuan yang telah kita capai, dan kemajuan yang lebih pesat lagi yang akan Anda bawakan. Sesungguhnya kita berada dalam kurun dan tanah air keilmuan. Tetapi hal ini jauh dari apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Lebih lanjut, saya teringat dalam hubungan ini kepada seorang muda yang baru saja menikah dengan seorang istri yang tidak terlalu menarik dan orang muda itu ditanya apakah dia merasa bahagia atau tidak. Dia lalu menjawab, "Jika saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta."

Begitu juga dengan saya. Marilah kita perhatikan seorang Indian yang mungkin tidak beradab, untuk menyimak apakah pengalaman dia memang kurang kaya ataukah kurang bahagia dibandingkan dengan rata-rata manusia yang beradab. Terdapat arti yang sangat maknawi dalam kenyataan bahwa anak-anak dari seluruh penjuru dunia yang beradab senang sekali bermain meniru-niru Indian.

Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita ? Jawaban yang sederhana adalah - karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar.

Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia budak-budak mesin, dimana setelah hari-hari yang panjang dan monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan rasa mual, dan harus terus gemetar untuk memperoleh ransum penghasilan yang tak seberapa. Kamu akan mengingat tentang seorang tua yang menyanyikan sebuah lagu yang jelek. Sayalah yang menyanyikan lagu itu, walau begitu, dengan sebuah itikad, untuk memperlihatkan sebuah akibat.

Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda - agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan. Janganlah kau lupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.

----------------------------------------------------oo00oo----------------------------------------------------

Catatan pribadi :
Saat menulis ini jiwa saya melayang, flash back 20 tahun ke belakang. Menclok di kelas 3A13, ruang di sisi lorong gerbang, SMA Negeri 1 Klaten.

Sekilas tercium bau harum bunga-bunga Acacia Longifolia yang rontok di halaman tengah. Ditingkahi hilir mudik ABG-ABG tanggung mengenakan kaos kelas kebanggaan. Entah ada berapa kelas yang memproklamirkan diri sebagai 'Einstein mania' menyematkan foto diri Dewa Fisika itu di dadanya.

Bergerak perlahan slideshow di pelupuk mataku, menampilkan satu persatu wajah para guru yang kami hormati, yang menorehkan sebagian warna-warni jalan hidupku, kemaren dan hari ini. I miss you all ! Khususnya guru Fisika saya..... Pak Wanto..... 

Pak Wanto, panjenengan berbeda ! Tanpa basa-basi Bapak pukulkan palu pengetahuan dengan sangat keras ke ubun-ubun kami. Kadang menyakitkan. Tapi justru karena itu pakunya menancap kuat hingga hari ini. 'Mikir ki nganggo iki, ra nganggo iki' Kata Bapak ketus. Iki yang pertama Bapak menunjuk jidat. Iki yang kedua Bapak menunjuk dengkul. Kekekekeke......

Hingga kami penasaran karena soal ulangan Bapak tidak pernah mirip dengan yang di buku pegangan terbitan manapun. Indah ! Begitu Indah ! Bukan hanya alur logikanya tapi juga angka-angka jawabannya. Angka-angka yang keriting saat perhitungan itu tiba-tiba secara ajaib menjelma menjadi angka cantik pada jawaban akhir. 

Suatu hari, kami sekelas sedang serius mengerjakan ulangan Bapak. Seperti biasa, Bapak tidak pernah menunggui kami. Eeee ... ditunggui atau tidak sama saja sih. Mau nyontek gak ada di buku, nanya temen sama-sama judeg. Senyampang Bapak menikmati Kretek Gudang Garam Merah di luar kelas, salah seorang dari kami, Abdul Rochim, berjingkat-jingkat ke meja guru, membalik kitab kuning stensilan azimat Bapak. 'Buku jaman Londo...! teriak Abdul Rochim 'Ujian AMS 1920 ...! lanjutnya. Terlihat ekspresinya kaget campur heran. Begitu juga dengan kami. 

Senin, 17 Mei 2010

Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya

Berhenti SUKSES - berhenti GAGAL Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti BERANI - berhenti TAKUT Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti OPTIMIS - berhenti PESIMIS Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti MENYUKA - berhenti MEMBENCI Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti MEMILIKI - berhenti KEHILANGAN Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti BERHARAP - berhenti CEMAS Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya Berhenti GEMBIRA - berhenti BERDUKA Lakukan saja kewajibanmu : sebaik-baiknya ------------ STA, 18 Mei 2010

Rabu, 24 Februari 2010

Apa Yang Sudah Mereka Lakukan di Malaysia, Sejauh ini ?


Saya kutipkan berita dari Kompas dotcom tanggal 8 Oktober 2009, di bawah ini. Berita aslinya ada di sini.

Secara garis besar, ini cerita tentang dedengkot LSM di Indonesia yang membuat pernyataan bahwa LSM nya akan mengirim 1.500 relawan ke Malaysia menyikapi memanasnya hubungan Pemerintah RI dengan Malaysia. Relawan dikirim secara bertahap sejak 9 Oktober hingga 25 Oktober 2009. Pengiriman dilakukan lewat darat, laut dan udara melalui -meminjam istilah dedengkot tersebut- jalur masuk yang tidak pernah akan diduga oleh Malaysia.

Hari ini sudah tanggal 24 Februari 2010. Artinya sudah lebih dari empat bulan sejak tanggal yang dinyatakan pada saat itu pemberangkatan pertama dilakukan. Namun, koq masih adem ayem saja ya ? Ah jangan-jangan para dedengkot itu bohong ! Jangan-jangan bukannya dikirim ke Malaysia, mereka justru dikirim pulang kampung. Atau jangan-jangan, bahkan, LSM itu tidak punya massa sebesar itu. Jika diantara sidang pembaca ada yang ahli strategi militer, tolong dong kasih pendapat, untuk memberangkatkan dan menghidupi relawan sebanyak itu di negeri orang, dalam kondisi siap melakukan operasi, selama sekian bulan, dengan nilai tukar IDR jauh lebih rendah dari MYR, berapa rupiah dibutuhkan.

Jika hasilnya sangat besar, maka kesimpulannya LSM itu sangat kaya atau paling tidak memiliki donatur yang sangat kuat. Tetapi mungkin juga sebaliknya, kalau melihat LSM itu tiap kali demo hanya membawa spanduk dari cat semprot, jangan-jangan dedengkot LSM itu hanyalah seorang pembual.
  
Kehormatan Indonesia dan warga negaranya penting untuk dijaga. Tapi -tentu saja- tidak dengan cara membual. Alih-alih menegakkan kehormatan, membual hanya akan membuat pelakunya jadi bahan tertawaan.
 
 
Ribuan Relawan Ganyang Malaysia Diberangkatkan Mulai 9 Oktober
Laporan wartawan KOMPAS.com Rosdianah Dewi
Kamis, 8 Oktober 2009 | 14:04 WIB
Rosdianah Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com — Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) akan memberangkatkan 1.500 relawan ke Malaysia. Langkah ini dilakukan guna mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa. Dan juga untuk melindungi setiap warga negara Indonesia yang berada di Malaysia.

Koordinator Bendera Mustar Bona Ventura, mengutip Sekretaris Nasional Central Bureau (NCB)-Indonesia Brigjen Pol Halba Rubis Nugroho, mengatakan, setiap hari satu WNI meninggal di Malaysia. "Dan dalam tiga tahun terakhir, 1.421 WNI tewas di Malaysia karena penyiksaan dan pembunuhan. Hal itu tidak bisa didiamkan. Bendera pasti akan turun tangan dengan atau tanpa izin," ujar Mustar di Jakarta, Kamis (8/10).

Menurut Mustar, pihak Bendera tidak gentar walau Dewan Keamanan Nasional Malaysia telah menyiagakan keamanan di setiap perbatasan untuk menghadapi kedatangan relawan Bendera.

Bendera tetap akan memberangkatkan para relawan sesuai jadwal awal. Pemberangkatan relawan berjumlah 1.500 ini akan dilakukan secara bertahap melalui jalur masuk yang tidak pernah akan diduga oleh Malaysia. "Bisa melalui jalur udara, darat, dan laut. Tapi tidak bisa kita jelaskan secara rinci," ujar Mustar.

Pemberangkatan pertama dilakukan pada tanggal 9 Oktober. Pada waktu itu, Bendera akan memberangkatkan 200 relawan, dan diperkirakan sampai ke Malaysia pada tanggal 14 Oktober 2009.

Pemberangkatan berikutnya, 125 relawan pada tanggal 11 Oktober, 125 relawan lainnya pada tanggal 15 Oktober, 600 relawan pada tanggal 17 dan 19 Oktober, dan 400 relawan pada tanggal 22 Oktober. Dan pemberangkatan terakhir pada tanggal 25 Oktober, yaitu 50 tim medis.

Mustar mengaku aksi ini didukung 8.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di Malaysia. "Tercatat 8.000 TKI yang siap bergabung dan mendukung gerilya yang dilakukan oleh relawan Bendera," katanya.

Jumat, 13 November 2009

Tuhan Sembilan Senti

Beberapa hal menyebabkan saya memutuskan untuk tidak merokok. Paling tidak ada dua lagi pengalaman pahit yang membuat saya
tidakkurang suka pada orang yang merokok sembarangan.

Kejadian pertama. Saat itu saya naik Kopaja di depan kampus. Karena masih kosong, dan tujuan cukup dekat saya mengambil duduk di pinggir pintu, agar nanti turunnya gampang. Tiba-tiba naik dua anak muda tanggung. Di tangan salah satunya terselip rokok yang masih menyala. Tangan itu menggantung ke bawah. Saat lewat tiba-tiba baranya menyerempet lututku. Tentu saja saya kaget. Lebih kaget lagi saat mengetahui celana panjangku berlubang. Ugh..!!!. Seketika amarahku naik. Si anak muda tahu telah membuat kesalahan. Dia buru-buru minta maaf. Ya sudah. Saya tidak berusaha memperpanjang urusan. Cuma, apakah dengan permintaan maafnya celanaku jadi utuh kembali ? Di dengkul, Bo ! Gak bisa dipake lagi, gak bisa buat shalat lagi ! Celana kesayangan Je !


Kejadian kedua, hampir mirip. Waktu itu saya naik angkot dari Pasar Mayestik mau ke kampus. Saya duduk di tengah-tengah. Pas di Taman Puring ada bapak-bapak naik. Karena angkot penuh dia duduk di pintu. Olala, rokoknya kagak dimatiiin Cing ! Begitu sopir menginjak pedal gas, angkot melaju, tentu saja itu kepala rokok terhembus angin. Kretek, kretek, kretek...baranya bermuncratan ke dalam angkot. Beberapa diantaranya menclok di bajuku hingga berlubangan seperti gajah Raja Abrahah diserang Burung Ababil. Penumpang-penumpang menggerutu. Lagi-lagi Si Perokok (hanya) minta maaf.

So, menghadapi perokok yang egois, saya suka sentimentil. Emang ada perokok yang tidak egois ? Jawabannya bisa beragam. Tapi paling tidak beberapa teman perokok masih lihat-lihat tempat dan situasi untuk melakukannya.

Tahukah Anda, seorang Taufik Ismail mempersamakan rokok dengan berhala ? Bahkan beliau menyindir para kyai yang kecanduan ngebul dengan sebutan ulama ahli hisap (pakai 'P', bukan 'B'). Silahkan baca hal itu pada puisinya berikut ini.

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya,
pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz..
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Kamis, 11 Juni 2009

Hati-hati dengan Peralatan Makan Melamin Anda !



BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) Republik Indonesia pada tanggal 1 Juni 2009 telah mengeluarkan peringatan/ public warning No.KH.00.01.1.23.2258 tentang peralatan makan dari bahan melamin.

Dalam peringatan tersebut disebutkan bahwa BPOM RI telah melakukan penelitian atas 62 sampel dimana 30 diantaranya positif mengeluarkan melamin. 30 jenis peralatan yang mengeluarkan melamin tersebut berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan (masih ingat kasus susu bermelamin di China khan ?) bila digunakan untuk mewadahi makanan yang berair atau berasa asam terlebih dalam keadaan panas.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca dokumen aslinya di sini.

Selamat berhati-hati.



Selasa, 31 Maret 2009

Ketika Mulut Tak Lagi Bicara


Banyak cerita dahsyat melatarbelakangi lahirnya sebuah maha karya. Penguasa Hindustan kala itu, Shah Jahan, didera duka maha duka setelah belahan hatinya, permaisuri Mumtaz Mahal mendahuluinya menghadap Sang pencipta. Tetapi duka maha hebat itu justru menjadi awal berdirinya Taj Mahal, karya seni maha tinggi, monumen cinta suci seorang suami untuk istri.

Berikut adalah cerita lain tentang, Taufiq Ismail dalam majalah sastra Horizon berkisah tentang lahirnya lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara yang dinyanyikan oleh Chrisye
bagaimana sebuah kisah dramatis terjadi dibalik proses lahirnya sebuah karya besar. Ditulis oleh


Krismansyah Rahadi (1949-2007):
KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA

Oleh Taufiq Ismail
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, ”Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius. Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul.

Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ”Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa! Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,”Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.

Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. “Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari! Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak. Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya. Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?” Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.


Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna
Mohon karunia
Kepada kami

Jumat, 16 Januari 2009

Lapangan Sepakbola Griya Anggraini Bogor

Gambar 1. Skuad PSMS Medan berlatih. Klik untuk memperbesar

Komplek perumahan dengan fasilitas lapangan tenis, kolam renang, taman bermain adalah hal biasa. Komplek perumahan dengan fasilitas lapangan bola, baru luar biasa. Ah masa ada ! Yup, ini contohnya, Griya Anggraini Bogor. Sebuah lapangan sepakbola dengan ukuran standar, dilapisi rumput yang terawat baik (saya sering melihat di TV lapangan bola dengan rumput yang jauh lebih buruk digunakan untuk pertandingan Liga Indonesia) menjadi fasilitas andalan, disamping fasilitas standar lainnya. Keberadaannya menjadi vital dan sentral, tidak hanya sebagai sarana berolah raga yang nyaman bagi segenap penghuninya, lebih dari itu merupakan wahana sosialisasi yang efektif.


Disamping warga, beberapa instansi, organisasi, klub tercatat pernah dan atau masih menggunakannnya untuk tempat latihan atau penyelenggaraan pertandingan. Beberapa diantaranya adalah Liga Sepakbola Departemen Keuangan, Liga Sepakbola Ditjen Anggaran, Persikabo Bogor, PSMS Medan, Korean FC (klub sepakbola yang pemainnya terdiri dari para ekspatriat asal Korea, berlatih tiap Sabtu Sore).

Berikut pemandangan lapangan dari berbagai sudut pandang serta beberapa moment saat Skuad PSMS Medan berlatih disana dalam rangka persiapan laga tandang.

Gambar 2. Briefing oleh Luciano Leandro. Klik untuk memperbesar.


Gambar 3. Luciano Leandro bercanda dengan asistennya. Klik untuk memperbesar.


Gambar 4. Tribun yang nyaman buat penonton. Klik untuk memperbesar.


Gambar 5. Berolah raga dengan udara yang bersih.Klik untuk memperbesar.

Jika Anda organisasi, perkumpulan, klub sepakbola atau apapun berminat ikut menikmati kenyamanan lapangan ini, tidak perlu repot. Silahkan datang ke lapangan, hubungi pengurus, bikin kesepakatan jadwal pemakaian. Gampang khan.

Sabar.., sabar..! Bukannya aku lupa. Tetapi sengaja ingin tahu seberapa antusias peminatnya. Karena banyak yang mengacungkan jari, ya sudah ini tak kasih alamat lapangannya : Blok C, RT.3/ RW.11, Griya Anggraini, Kel. Karang Asem Barat, Kec. Citeureup, Kab. Bogor, Kode Pos 16810. Belum cukup ! Ok, peta lokasinya bisa dilihat di sini. Sampai jumpa di lapangan.